Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #7

Harga Sebuah Kesalahan

Di Rumah Batu, kesalahan tidak pernah dianggap sebagai bagian dari proses belajar. Kesalahan adalah cacat permanen, sebuah noda yang harus dibayar dengan harga yang mahal. Biasanya berupa harga diri yang diinjak-injak atau keheningan yang menyiksa selama berhari-hari. Kesalahan kecil adalah retakan baru, dan di bawah atap ini, tidak ada yang lebih ditakuti selain struktur yang mulai goyah.

​Pagi itu dimulai dengan kecerobohan yang sangat sederhana. Aku, yang pikirannya masih bercabang antara rahasia bengkel Ayah dan rasa kasihan pada Paman Erlan, tidak sengaja menjatuhkan sebuah guci keramik kecil di ruang tamu saat sedang menyapu.

​Suara prang yang dihasilkan oleh keramik yang bertemu lantai semen terdengar seperti ledakan bom di telingaku. Dunia seolah berhenti berputar. Debu-debu yang menari di cahaya pagi mendadak diam membeku. Aku menatap puing-puing guci itu dengan jantung yang berdegup kencang, seolah-olah yang baru saja pecah bukanlah benda mati, melainkan nyawaku sendiri.

​Guci itu bukan guci mahal dari dinasti kuno, tapi itu adalah hadiah dari almarhum kakek untuk Ayah. Itu adalah simbol keberhasilan kakek membangun rumah ini. Dan sekarang, simbol itu berserakan menjadi serpihan tajam di bawah kakiku.

​"Apa itu?"

​Suara Ayah muncul dari arah dapur, berat dan penuh ancaman. Langkah kakinya yang mantap mendekat, menciptakan getaran yang bisa kurasakan melalui telapak kakiku yang gemetar. Tak lama kemudian, sosok Ki Yanto berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan puing-puing di lantai.

​Aku tidak berani mendongak. Aku hanya bisa menatap ujung sepatu bot kulit Ayah yang sudah kusam namun tetap tampak kokoh.

​"Maaf, Yah... Hilman nggak sengaja. Tadi tersenggol gagang sapu," suaraku mencicit, nyaris tak terdengar.

​"Nggak sengaja?" Ayah mengulang kalimatku dengan nada yang begitu dingin hingga aku merasa darahku membeku. "Kamu tahu sudah berapa lama guci itu ada di sana? Lebih lama dari umurmu! Dan sekarang kamu bilang nggak sengaja?"

​Ayah mendekat. Aku bisa mencium aroma oli dan tembakau dari tubuhnya. Aroma yang biasanya menenangkan bagi anak-anak lain, namun bagiku adalah aroma peringatan bahaya.

​"Kamu itu memang nggak pernah bisa diandalkan, Hilman! Pikiranmu itu ke mana? Memang benar kata Adit, kamu ini lembek! Hanya bisa melamun dan menghancurkan barang!" Ayah membentak, dan kali ini suaranya benar-benar menggelegar, membuat kaca jendela ikut bergetar.

​Ibu muncul di belakang Ayah, wajahnya tampak sangat pucat. Beliau tidak membela. Beliau justru menutup mulutnya dengan tangan, matanya menunjukkan kekecewaan yang lebih menyakitkan daripada makian Ayah. Di Rumah Batu, diamnya Ibu adalah hakim, dan amarah Ayah adalah eksekutornya.

​"Sapu sekarang. Masukkan ke tempat sampah. Dan jangan harap kamu dapat makan enak minggu ini," ujar Ayah sambil berlalu pergi dengan perasaan gusar yang meluap-luap.

​Aku berlutut, mulai memunguti serpihan keramik itu dengan tangan gemetar. Ujung keramik yang tajam sempat menggores jempolku hingga mengeluarkan darah, tapi rasa perih di jari itu tidak sebanding dengan rasa sesak di dadaku. Aku merasa sangat kecil. Sangat tidak berguna.

​"Biar Paman bantu."

​Sebuah tangan gembul yang kasar namun hangat tiba-tiba muncul di sampingku, ikut memunguti serpihan. Paman Erlan. Dia rupanya sudah berdiri di sana sejak tadi, menyaksikan "pengadilan" singkat yang baru saja kualami.

​"Paman, jangan. Nanti Paman ikut dimarahi," bisikku.

​Paman Erlan tidak menjawab. Dia terus memunguti pecahan itu dengan telaten. Dia mengumpulkan serpihan besar, lalu menggunakan kain lap basah untuk mengambil debu-debu keramik yang kecil. Setelah semuanya bersih, dia mengajakku duduk di teras samping, tempat yang biasa kami gunakan untuk melarikan diri dari ketegangan rumah.

Lihat selengkapnya