Udara pagi ini terasa seperti uap air yang dimasak di atas tungku: panas, lembap, dan menempel di kulit seperti duka yang tak kunjung usai. Di Rumah Batu, pagi hari bukanlah waktu untuk menyambut harapan, melainkan waktu untuk mempersiapkan perisai masing-masing sebelum terjun ke dalam rutinitas yang melelahkan.
Aku sedang berdiri di teras belakang, memperhatikan Ibu yang sedang menjemur pakaian dengan gerakan yang begitu kaku, seolah-olah setiap helai kain adalah beban dosa yang harus dibersihkan. Tak ada nyanyian, tak ada gumaman, hanya suara plethek dari jepitan jemuran plastik yang menghantam kawat jemuran. Di rumah ini, keheningan adalah penguasa, dan kami hanyalah rakyat jelata yang patuh.
Namun, di pojok teras, dekat dengan pot bunga kaktus yang sudah lama mati karena jarang disiram, aku melihat pemandangan yang ganjil. Paman Erlan sedang jongkok dengan sangat khusyuk. Tubuh gembulnya yang dibalut kaos kuning (yang kini punya noda baru di pundak akibat karung beras kemarin) tampak seperti gundukan tanah yang tenang.
"Paman lagi apa?" tanyaku mendekat, berusaha memecah kebekuan suasana pagi.
Paman Erlan tidak menoleh. Jari telunjuknya yang besar dan kasar menunjuk ke arah barisan semut hitam yang sedang melata di antara sela-sela lantai semen. "Lagi nonton pawai, Hilman. Lihat ini, mereka ini hebat banget ya? Kecil, nggak punya dasi, nggak punya bengkel, tapi nggak pernah telat masuk kerja."
Aku ikut jongkok di sampingnya. Barisan semut itu bergerak rapi, membawa serpihan remah biskuit yang mungkin jatuh dari meja makan semalam. "Mereka cuma semut, Paman. Mereka cuma tahu cari makan."
Paman Erlan tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras dengan bunyi jepitan jemuran Ibu di belakang kami. "Bukan cuma cari makan, Hilman. Mereka ini lagi nunjukin ke kita gimana caranya jadi keluarga. Kamu lihat, kalau mereka papasan, mereka berhenti sebentar, kan? Kayak lagi cium tangan atau nanya kabar. Mereka nggak pernah pura-pura nggak kenal meskipun lagi buru-buru."
Aku terdiam. Sindiran halus itu langsung menghujam jantungku. Di rumah ini, kami sering berpapasan di lorong layaknya orang asing di stasiun kereta api. Kami menghindar agar tidak bersenggolan, kami memalingkan wajah agar tidak perlu menyapa. Kami jauh lebih buruk daripada barisan semut ini.
"Dan kamu lihat yang paling depan itu," lanjut Paman Erlan. "Dia bawa beban yang paling gede. Tapi dia nggak pernah teriak-teriak minta tolong atau pamer kalau dia paling kuat. Dia cuma jalan aja. Kalau dia capek, ada temannya yang bakal ambil alih tanpa perlu diminta. Nggak ada yang pengen jadi 'batu yang paling tinggi' di antara mereka."
"Hilman! Malah main tanah! Cepat bantu Ibu angkat air ke belakang!" teriakan Ibu memecah filosofi semut Paman Erlan.
Aku bangkit dengan lesu, namun Paman Erlan lebih dulu berdiri. "Biar saya aja. Hilman biar siap-siap kerja. Otot saya lagi pengen olahraga sebelum ke pasar," ujar Paman Erlan dengan riang.
Ibu menatap Paman Erlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sisa kemarahan soal insiden guci kemarin, tapi ada juga ketergantungan karena Paman mulai memberikan uang hasil kuli pasarnya ke meja dapur. "Ya sudah, cepat. Jangan sampai tumpah di lantai."
Paman Erlan mengangkat dua ember besar sekaligus dengan mudahnya. Saat dia berjalan melewatiku, dia membisikkan sesuatu. "Jangan jadi semut yang egois ya, Hilman. Kalau nggak bisa bantu bawa beban, setidaknya jangan jadi penghalang di jalannya."
Aku berangkat kerja dengan pikiran yang berkecamuk. Sepanjang hari di pabrik, aku memikirkan barisan semut itu. Aku melihat struktur kerja di pabrik ini: mandor yang membentak, buruh yang saling sikut demi lembur, dan persaingan yang tidak sehat. Semuanya sangat mirip dengan kondisi di Rumah Batu. Kami semua berlomba-lomba untuk tidak menjadi yang paling bawah, tanpa sadar bahwa kami sebenarnya berada di bawah satu atap yang sama.
Sore harinya, saat aku pulang, aku melihat Adit sedang mencuci mobilnya di halaman depan. Mobil itu mengkilap, sangat kontras dengan dinding rumah yang sudah mulai berlumut di beberapa bagian. Adit mencuci mobilnya seolah sedang memandikan bayi suci: sangat hati-hati, sangat penuh dedikasi.
"Baru pulang, man?" tanya Adit tanpa menoleh. Dia sedang sibuk mengelap velg mobilnya.
"Iya," jawabku singkat.