Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #9

Mimpi yang Tidak Diizinkan

Di Rumah Batu, mimpi adalah barang selundupan. Kamu tidak bisa membawanya masuk lewat pintu depan tanpa diperiksa oleh tatapan tajam Ayah atau disaring oleh logika perhitungan Ibu. Jika mimpimu tidak berbentuk tumpukan uang, jabatan yang mentereng, atau setidaknya sesuatu yang bisa dipamerkan Adit kepada rekan-rekan bisnisnya, maka mimpimu hanyalah dianggap sebagai "gangguan jiwa" yang harus segera disembuhkan.

​Sejak kecil, aku memiliki sebuah rahasia yang kusimpan di bawah kasur tipisku, sebuah buku sketsa kusam dengan lembaran yang sudah mulai menguning. Di sana, aku tidak menggambar mesin-mesin pabrik atau denah ruko seperti yang dilakukan Adit. Aku menggambar wajah-wajah orang di pasar, kerutan di dahi Ibu saat beliau sedang lelah, dan tawa gembul Paman Erlan yang tampak seperti sinar matahari di atas kertas.

​Bagiku, menggambar adalah caraku bernapas di tengah sesaknya udara Rumah Batu. Namun pagi ini, rahasia itu terancam pecah.

​"Hilman! Ini apa?"

​Suara Ibu melengking dari arah kamarku, diikuti dengan bunyi kertas yang ditarik kasar. Jantungku serasa jatuh ke lantai semen yang dingin. Aku yang sedang mencuci piring di dapur segera berlari menuju kamar dengan tangan yang masih basah dan berbusa.

​Ibu berdiri di tengah kamar, memegang buku sketsaku seolah-olah itu adalah bungkusan narkoba. Di belakangnya, Adit berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya menunjukkan seringai kemenangan yang menyebalkan.

​"Kamu buang-buang waktu buat ginian, Hilman? Gambar-gambar nggak jelas begini?" Ibu melempar buku itu ke atas meja. "Ibu pikir kamu lembur di pabrik, ternyata kamu pulang cuma buat melamun dan mencoret-coret kertas!"

​"Bu, itu cuma hobi..." suaraku bergetar.

​"Hobi itu kalau perutmu sudah kenyang, Hilman!" potong Adit dengan nada meremehkan. "Lihat saya, hobi saya itu kerja, cari relasi, bikin masa depan keluarga kita jelas. Gambar orang pasar ini buat apa? Mau jadi pelukis jalanan? Mau bikin malu nama Ayah?"

​Adit mengambil buku sketsa itu, membolak-baliknya dengan kasar. "Gambar Paman Erlan lagi makan bakwan? Bagus sekali. Sangat menginspirasi kemiskinan," sindirnya sambil tertawa sinis.

​Ayah muncul di ambang pintu. Kehadirannya seketika membekukan suasana. Beliau tidak bicara, hanya menatap buku sketsa itu dengan pandangan yang kosong namun menghakimi. Bagiku, diamnya Ayah adalah hukuman mati bagi imajinasiku.

​"Bakar saja, Bu. Biar dia fokus kerja. Sebentar lagi ada lowongan supervisor di pabriknya, dia harus belajar, bukan menggambar," ujar Ayah pendek, lalu berlalu pergi seolah mimpiku adalah sampah yang harus segera dibersihkan dari jalur jalanannya.

​Ibu mengambil korek api dari sakunya. Aku ingin berteriak, ingin merebut buku itu, tapi kakiku seolah tertanam di lantai semen. Di Rumah Batu, melawan adalah bunuh diri sosial.

​"Jangan, Nyi Lilis. Sayang koreknya, mending buat nyalain kompor masak rendang."

​Suara itu datang dari arah jendela. Paman Erlan sedang bertengger di sana, tangannya memegang sebuah botol air mineral bekas yang diisi beberapa tangkai bunga liar yang dia temukan di pinggir jalan.

​"Erlan! Jangan ikut campur! Ini urusan masa depan anak saya!" bentak Ibu.

​Paman Erlan melompat masuk ke kamar dengan kelincahan yang mengejutkan untuk orang seukurannya. Dia menyambar buku sketsa itu dari tangan Ibu dengan gerakan yang halus, lalu memeluknya di dadanya.

Lihat selengkapnya