Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #10

Serangan Kata-Kata

Ada yang lebih tajam daripada sembilu, lebih panas daripada aspal jalanan di siang bolong, dan lebih merusak daripada rayap di kayu lapuk: yaitu lidah kerabat yang datang berkunjung hanya untuk membanding-bandingkan nasib. Di Rumah Batu, kunjungan keluarga besar bukanlah ajang melepas rindu, melainkan sebuah panggung pameran keberhasilan di mana mereka yang gagal akan dikuliti hidup-hidup tanpa ampun.

​Hari Minggu ini, ketenangan Rumah Batu terusik oleh deru mobil mewah putih mengkilap yang berhenti tepat di depan pagar. Dari dalamnya keluar Bibi Rani (adik perempuan Ibu) dan suaminya, Paman Johan. Mereka adalah definisi dari "orang kaya baru" yang merasa bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka harus mengandung bumbu pamer.​

Ibu mendadak sibuk luar biasa. Beliau merapikan taplak meja yang sebenarnya sudah lurus, menyuruhku membeli biskuit kaleng yang paling mahal di warung depan, dan memerintahkan Paman Erlan untuk "bersembunyi" sementara di halaman belakang agar tidak merusak pemandangan.

​"Ingat, Erlan! Jangan keluar sebelum mereka pulang! Saya tidak mau Rani tahu kalau adiknya Yanto sekarang jadi kuli pasar!" bisik Ibu dengan nada yang sangat mendesak.

​Paman Erlan hanya mengangguk pelan, membawa segelas kopi hitamnya ke bawah pohon mangga di belakang. Aku melihat punggungnya yang lebar itu tampak sedikit layu. Di rumah ini, Paman Erlan seringkali dianggap seperti noda di baju putih yang harus segera ditutupi jika ada tamu penting datang.

​"Aduh, Lilis! Rumahmu kok masih begini-begini saja? Masih pakai batu alam yang kusam ini?" suara melengking Bibi Rani langsung memenuhi ruang tamu, bahkan sebelum beliau duduk.

​Bibi Rani duduk dengan gaya ningrat, meletakkan tas bermereknya di atas meja jati kami yang kusam. Paman Johan duduk di sampingnya, sibuk memainkan kunci mobil yang sengaja ditaruh di tempat yang terlihat jelas.

​"Iya, Ran. Yanto suka yang gaya klasik begini, katanya lebih kokoh," jawab Ibu dengan senyum yang dipaksakan. Aku bisa melihat jari-jari Ibu saling bertautan di bawah meja, tanda bahwa beliau sedang sangat gugup.

​"Klasik sih klasik, tapi ya direnovasi sedikit. Lihat itu dindingnya sudah mulai berlumut. Johan baru saja selesai bangun rumah di pusat kota, tiga lantai lho! Pakai marmer dari Italia. Dinginnya beda, Lilis," Bibi Rani tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan amplas di telingaku.

​Ayah keluar dari kamar, mengenakan kemeja batik yang paling bagus meskipun warnanya sudah sedikit pudar. "Eh, Johan. Kapan sampai?"

​"Baru saja, Kang Yanto. Tadi mampir sebentar lihat proyek ruko. Oh iya, dengar-dengar bengkel Kang Yanto lagi sepi ya? Kalau butuh modal atau mau saya carikan tempat baru yang lebih strategis, bilang saja. Sesama keluarga harus saling bantu, kan?" Paman Johan bicara dengan nada pelindung, namun matanya menunjukkan rasa puas karena berada di posisi yang lebih unggul.

​Wajah Ayah mengeras. Aku tahu, harga diri Ayah sedang dipertaruhkan di sini. "Masih jalan. Masih banyak pelanggan setia," jawab Ayah pendek.

​"Oh, baguslah. Tapi zaman sekarang kalau nggak inovasi ya kalah sama yang modal besar," Paman Johan menoleh ke arahku yang sedang menyajikan minuman. "Hilman, bagaimana kerjamu? Masih di pabrik garmen itu? Sayang sekali ya, padahal Adit sudah sukses begitu, kenapa kamu nggak ditarik saja jadi asistennya?"

​Adit, yang baru saja bergabung di ruang tamu, menyambar pertanyaan itu dengan cepat. "Hilman belum siap, Paman. Skill-nya belum sampai di level perusahaan saya. Lagipula, dia lebih suka menggambar-gambar tidak jelas daripada belajar bisnis."

​Bibi Rani tertawa lagi. "Menggambar? Mau jadi apa? Penjual lukisan di pinggir jalan? Hilman, Hilman... kamu harus contoh Adit. Laki-laki itu yang penting mapan dulu, hobi itu nanti saja kalau sudah punya mobil."

​Aku hanya bisa menunduk, merasakan wajahku memanas. Serangan kata-kata ini lebih menyakitkan daripada bentakan Ayah. Mereka sedang menelanjangi semua kekurangan keluarga kami dengan kedok "saran yang membangun".

​Tiba-tiba, suasana yang tegang itu pecah oleh suara siulan yang nyaring dari arah dapur. Paman Erlan muncul dengan santainya, membawa piring berisi bakwan jagung buatannya sendiri yang aromanya sangat menggoda. Beliau seolah lupa, atau sengaja melupakan instruksi Ibu untuk bersembunyi.

Lihat selengkapnya