Malam ini, langit tidak menyisakan satu bintang pun. Mendung menggantung rendah, seolah-olah langit itu sendiri kelelahan menahan beban air yang siap tumpah. Di Rumah Batu, keheningan pasca kunjungan Bibi Rani terasa lebih pekat dari biasanya. Bau asap rokok kretek Ayah merayap keluar dari celah pintu kamarnya, bercampur dengan aroma minyak kayu putih dari kamar Ibu. Ini adalah aroma kekalahan yang disembunyikan.
Aku tidak bisa tidur. Pikiranku terus berputar pada kata-kata Paman Erlan sore tadi. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun, langkahku terhenti saat melihat cahaya remang dari lampu teplok di gudang belakang yang biasanya sudah padam.
Di sana, aku melihat Paman Erlan dan Ayah.
Mereka duduk berhadapan di atas tumpukan kayu bekas. Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Ayah duduk dengan bahu yang merosot, sementara Paman Erlan sedang sibuk mengoleskan minyak urut ke tangan Ayah yang tampak gemetar. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ayah bukan sebagai raksasa batu, melainkan sebagai seorang pria tua yang sudah kehabisan napas.
"Sudah, Erlan. Jangan dipaksa. Tangan ini sudah terlalu banyak memegang besi dingin, sudah kaku," ujar Ayah dengan suara yang parau.
"Besi itu kalau sering dielus juga bakal lunak, Kak. Apalagi cuma tangan manusia," jawab Paman Erlan pelan. Dia memijat jemari Ayah dengan penuh kesabaran, gerakan yang sangat kontras dengan cara dia memikul karung beras di pasar.
"Kamu benar soal Rani tadi sore," desis Ayah, matanya menatap kosong ke lantai gudang. "Saya malu, Erlan. Saya membangun rumah ini dengan keringat dan darah agar adik-adik saya dan anak-anak saya tidak dihina orang. Tapi lihat sekarang... saya sendiri yang membiarkan mereka menghina kita karena saya tidak mampu lagi menghidupi harga diri saya sendiri."
Paman Erlan berhenti memijat. Dia menatap kakaknya dengan pandangan yang dalam. "Kak Yanto, harga diri itu bukan dibangun dari semen dan batu. Kakak terlalu terobsesi sama wasiat Ayah, sampai Kakak lupa kalau rumah ini isinya manusia, bukan patung."
Ayah menghela napas panjang. "Ayah dulu bilang, 'Yanto, kamu anak tertua. Kalau kamu lemah, adik-adikmu akan jadi sampah. Kamu harus jadi batu karang.' Saya cuma menjalankan tugas, Erlan."
"Dan Kakak pikir saya jadi 'sampah'?" Paman Erlan tertawa kecil, tawa yang kali ini terasa menyayat hati. "Kakak tahu kenapa dulu saya milih keluar dari sekolah teknik yang Kakak bayarin mahal-mahal? Kenapa saya milih jadi orang yang dianggap 'kurang waras' dan luntang-lantung di kampung?"
Ayah terdiam. Aku juga menahan napas di balik bayang-bayang pintu dapur.
"Karena saya nggak kuat lihat Kakak kerja siang malam sampai muntah darah demi bayarin kuliah saya," suara Paman Erlan bergetar. "Saya tahu Kakak jual tanah warisan satu-satunya buat saya. Saya nggak mau jadi sukses di atas tulang rusuk Kakak yang patah. Saya milih jadi 'si bodoh' supaya Kakak nggak perlu terbebani lagi sama ambisi saya. Saya milih pulang ke sini sekarang bukan buat minta makan, tapi karena saya tahu batu karang saya ini sudah mulai keropos dan butuh sandaran."
Aku merasakan dadaku sesak. Rahasia itu meledak seperti kembang api di dalam kepalaku. Paman Erlan yang selama ini dihina oleh Adit, diremehkan oleh Ibu, dan dianggap beban oleh Ayah, ternyata adalah orang yang paling banyak berkorban. Dia menukar masa depannya dengan ketenangan batin kakaknya.
Ayah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Sosok yang paling ditakuti di Rumah Batu itu kini sedang menangis tanpa suara. Paman Erlan hanya diam, meletakkan tangannya di pundak Ayah, membiarkan keheningan malam menjadi saksi rekonsiliasi yang terlambat puluhan tahun ini.
"Maafkan saya, Erlan... Maafkan saya sudah menganggapmu kegagalan," bisik Ayah di sela isaknya.