Di sini, waktu seolah-olah berdetak lebih cepat jika kamu tidak punya uang, namun berjalan sangat lambat jika kamu sedang menunggu kabar baik.
Pagi ini, matahari belum lagi sepenuhnya tegak, tapi udara sudah terasa berat oleh kelembapan yang menyesakkan. Di depan pintu Rumah Batu, sebuah benda kecil berwarna putih terselip di sela-sela kayu jati. Bukan surat cinta, bukan pula undangan pesta, melainkan selembar kertas dengan angka-angka berwarna merah yang tampak seperti barisan gigi hiu yang siap mencabik-cabik ketenangan kami.
Tagihan listrik. Dan di bawahnya, terselip surat peringatan dari bank terkait tunggakan alat-alat bengkel Ayah.
Aku menemukan kertas-kertas itu sebelum Ibu bangun. Aku ingin meremasnya, membuangnya ke tempat sampah, atau menelannya bulat-bulat agar rahasia ini tidak melukai siapa pun. Tapi kertas itu terasa panas di tanganku, seolah-olah ia mengandung api yang siap membakar pondasi rumah ini.
"Hilman, itu apa?"
Suara Ibu muncul dari balik tirai dapur. Suara itu lelah, serak, dan penuh kecurigaan. Ibu berjalan mendekat dengan daster batiknya yang sudah pudar warnanya. Matanya langsung tertuju pada kertas di tanganku. Tanpa perlu jawaban dariku, beliau sudah tahu. Wajahnya yang pucat mendadak menjadi lebih pasi, seolah seluruh aliran darahnya tersedot keluar oleh angka-angka di kertas itu.
"Kasihkan ke Ibu," bisiknya.
Tangan Ibu gemetar saat mengambil surat itu. Beliau membacanya berulang-ulang, mungkin berharap angka-angka itu berubah menjadi lebih kecil secara ajaib. Tapi kenyataan di Rumah Batu tidak mengenal keajaiban.
"Jangan bilang Ayahmu. Jangan juga bilang Adit," pesan Ibu. Matanya menatapku dengan tatapan memohon yang sangat menyayat hati. "Biar Ibu yang cari jalannya. Ayahmu sedang tidak enak badan, dan Adit... Adit sedang sibuk dengan proyek besarnya. Jangan bebani mereka."
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Di rumah ini, melindungi ego laki-laki adalah tugas utama perempuan, bahkan jika itu harus mengorbankan kewarasan mereka sendiri. Ibu segera melipat surat itu dan menyembunyikannya di balik ikat pinggang dasternya, seolah-olah surat itu adalah luka yang harus ditutupi agar tidak mengundang lalat.
Namun, di meja makan pagi itu, ketegangan tidak bisa disembunyikan. Paman Erlan masuk dengan senyum yang biasanya lebar, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Dia melihat Ibu yang hanya mengaduk-aduk tehnya tanpa meminumnya. Dia melihat Ayah yang terus menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong.
"Aroma teh pagi ini kok kayak aroma ban terbakar ya? Ada yang lagi ngerem mendadak?" celetuk Paman Erlan, mencoba mencairkan suasana dengan gaya khasnya.
Adit, yang baru saja duduk dengan kemeja slim-fit birunya yang mengkilap, mendongak. "Paman nggak usah aneh-aneh. Kalau nggak ada yang lucu, nggak usah dipaksa melawak."
Paman Erlan duduk di hadapan Adit. "Dunia ini emang nggak lucu, Dit. Yang lucu itu manusianya. Ada orang yang rumahnya dari batu, tapi hatinya dari kaca. Sekali disentuh masalah, langsung retak seribu."
"Maksud Paman apa?!" Adit meletakkan sendoknya dengan suara denting yang keras. "Paman mau bilang saya lemah? Saya ini tulang punggung rumah ini! Tanpa gaji saya, rumah ini sudah ambruk dari dulu!"
"Ssst... Adit, suaramu," Ibu mencoba menenangkan, namun suaranya sendiri bergetar.
Ayah tiba-tiba berdiri. Beliau tidak bicara sepatah kata pun, hanya menyambar kunci bengkelnya dan berjalan keluar. Langkahnya terdengar sangat berat, setiap hentakan sepatunya di lantai semen terdengar seperti protes yang tak terucap. Paman Erlan menatap punggung Ayah dengan prihatin.
Setelah Ayah dan Adit berangkat, Paman Erlan mendekati Ibu di dapur. Aku pura-pura sibuk mencuci botol minum di wastafel agar bisa mendengar percakapan mereka.