Ada jenis kemarahan yang tidak bersuara, seperti api dalam sekam yang hanya menyisakan abu panas. Namun, ada pula kemarahan yang meledak layaknya dinamit di tambang batu, menghancurkan apa saja yang ada di radius jangkauannya tanpa peduli siapa yang terluka. Malam ini, di Rumah Batu, Adit memilih jenis yang kedua.
Setelah kunjungan petugas bank yang memalukan, atmosfer di ruang tamu terasa seperti sebuah ruang interogasi yang pengap. Lampu neon yang berpendar di langit-langit berkedip-kedip gelisah, seolah ikut merasakan detak jantung kami yang tidak beraturan. Ibu duduk di sudut kursi kayu, terus-menerus meremas ujung dasternya. Ayah hanya diam, namun tangan beliau yang memegang surat bank itu bergetar hebat.
"Semuanya gara-gara kalian!"
Adit berdiri di tengah ruangan. Suaranya tidak lagi sekadar tinggi, suaranya pecah, mengandung campuran antara rasa malu dan ego yang terinjak-injak. Dia menunjuk ke arah Ayah, lalu ke arah Ibu, dan terakhir ke arah Paman Erlan yang sedang duduk tenang di kursi rotan.
"Kalau saja Ibu nggak terlalu memanjakan Paman Erlan! Kalau saja Ayah nggak terlalu kaku mengurus bengkel! Kita nggak akan sehina ini di depan petugas bank!" teriak Adit.
"Adit, jaga bicaramu!" Ayah mencoba bersuara, namun suaranya terdengar sangat rapuh.
"Jaga bicara? Buat apa?!" Adit tertawa sinis, matanya merah padam. "Selama ini saya yang menanggung semua beban di rumah ini. Saya yang bayar angsuran, saya yang jaga nama baik supaya tetangga nggak tahu kalau kita ini cuma 'batu luar yang dalamnya keropos'! Tapi apa balasannya? Kalian malah membiarkan kuli pasar ini mengatur-ngatur hidup saya!"
Adit menoleh ke arah Paman Erlan dengan tatapan penuh kebencian. "Paman pikir dengan bayar listrik satu bulan, Paman sudah jadi pahlawan? Paman itu cuma pengganggu! Paman cuma mau melihat saya jatuh supaya Paman ngerasa punya temen yang sama-sama gagal, kan?!"
Paman Erlan tidak bergeming. Dia menatap Adit dengan tatapan yang sangat tenang... tatapan yang justru membuat Adit semakin gila. "Dit, orang yang paling bener itu biasanya orang yang paling takut ngakuin kalau dia salah. Kamu lagi takut, ya?"
"Saya nggak takut! Saya benar! Saya sudah melakukan semuanya buat keluarga ini!" Adit membanting amplop cokelat di tangannya ke atas meja. "Kalian tahu betapa susahnya saya di kantor? Menjilat atasan, lembur sampai pagi, pura-pura kaya supaya dapet proyek... itu semua buat siapa? Buat kalian! Buat gengsi Ayah! Buat mulut Ibu yang nggak pernah berhenti minta ini-itu!"
Ibu tersentak, air matanya tumpah. "Ibu nggak pernah minta berlebihan, Adit... Ibu cuma mau kita cukup..."
"Cukup apa, Bu?! Ibu selalu banding-bandingkan saya sama anak Bibi Rani yang punya mobil mewah! Ibu selalu mau Rumah Batu ini kelihatan paling hebat! Itu yang bikin saya tercekik!" Adit menjambak rambutnya sendiri, frustrasi.
Di titik ini, ego Adit benar-benar meledak. Dia bukan lagi pria sukses yang necis. Dia hanyalah seorang anak yang merasa dijadikan "alat" untuk menutupi kegagalan orang tuanya. Inilah retakan yang paling dalam di Rumah Batu: bukan pada dindingnya, tapi pada beban ekspektasi yang dipikul oleh anak tertuanya.