Dunia tidak pernah peduli seberapa besar badai yang sedang menghantam atap rumahmu. Bagi pabrik tempatku bekerja, aku hanyalah satu nomor di mesin absen, sebuah sekrup kecil yang bisa diganti kapan saja jika mulai berkarat atau melambat.
Di Rumah Batu, kami sedang belajar untuk saling memaafkan, namun di luar sana, di tengah deru mesin garmen yang tak kenal lelah, hidup tetaplah sebuah penggilingan yang siap melumat siapa pun yang lengah.
Pagi ini, Kota ini diselimuti kabut tipis yang berbau asap knalpot. Aku berangkat kerja dengan perasaan yang jauh lebih berat dari biasanya. Di saku celanaku, ada daftar kebutuhan dapur yang ditulis Ibu dengan tangan gemetar, daftar yang kini harus kupenuhi karena gaji Adit telah dipangkas dan bengkel Ayah masih bernapas tersengal-sengal.
"Hilman, ingat ya," bisik Paman Erlan saat aku berpamitan di depan pagar. "Pasir itu kalau diinjak memang diam saja. Tapi pasir itu pulalah yang bikin semen jadi kuat. Tanpa pasir, batu bata cuma bakal jadi tumpukan benda mati yang gampang roboh. Jangan malu jadi pasir."
Aku mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatiku terasa seperti diremas. Menjadi pasir itu sakit, Paman. Sakit karena tidak ada yang melihat keberadaanmu kecuali saat kamu membuat mata mereka kelilipan.
Di pabrik, suasana sedang mendidih. Desas-desus tentang pengurangan karyawan mulai menyebar seperti wabah. Teman-temanku di lini produksi bekerja dengan wajah tegang, seolah-olah setiap jahitan yang salah adalah tiket untuk dipulangkan. Aku, yang biasanya hanya fokus pada target harian, kini harus memutar otak. Aku butuh uang lembur. Aku butuh setiap rupiah yang bisa kudapatkan untuk membayar bunga bank Ayah yang mulai menagih janji.
"Man, kamu mau ambil lembur bagian malam?" tanya Pak Asep, mandor lini yang wajahnya sekeras beton.
"Mau, Pak. Kalau bisa, setiap hari," jawabku tanpa ragu.
Pak Asep menatapku dengan heran. "Biasanya kamu paling malas kalau disuruh lembur. Katanya mau pulang cepat buat menggambar. Kenapa sekarang?"
"Gambarnya libur dulu, Pak. Sekarang lagi butuh buat beli semen," jawabku getir.
Sepanjang hari, aku bekerja seperti mesin. Tanganku bergerak lincah di bawah jarum jahit yang bergerak naik-turun secepat detak jantungku. Punggungku mulai terasa panas, mataku perih karena debu kain, namun setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku membayangkan wajah Ibu yang menangis karena tagihan listrik. Aku membayangkan Ayah yang tangannya gemetar.
Aku menyadari satu hal pahit: di dunia ini, mimpi adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang perutnya sudah kenyang. Bagi pasir sepertiku, mimpi hanyalah interupsi yang berbahaya.
Saat jam istirahat tiba, aku duduk di sudut kantin yang pengap. Aku mengeluarkan buku sketsa kecilku, bukan untuk menggambar, melainkan untuk menghitung angka-angka. Gaji pokok, ditambah lembur dua minggu, dikurangi biaya makan... hasilnya tetap saja tidak cukup untuk menambal semua retakan di Rumah Batu.
"Eh, Hilman! Lagi gambar apa? Gambar kemiskinan?" suara cempreng itu milik Budi, rekan kerjaku yang paling suka membully. Dia datang bersama kawan-kawannya, membawa aroma rokok yang menyengat.
Aku tidak menjawab. Aku segera menutup buku itu dan memasukkannya ke saku.
"Jangan sombong lah, Man. Dengar-dengar kakakmu yang 'si paling sukses' itu lagi kena masalah ya? Mobilnya kok jarang kelihatan? Apa sudah ditarik leasing?" Budi tertawa, dan kawan-kawannya ikut menimpali dengan tawa yang merendahkan.
Darahku mendidih. Inilah rasanya menjadi pasir yang terinjak. Orang-orang ini, yang selama ini merasa iri dengan "kehebatan" keluarga kami, kini sedang menikmati kejatuhan kami layaknya menonton sirkus gratis.