Ada sebuah alasan mengapa gunung berdiri tegak menantang badai: bukan karena dia sombong, tapi karena dia tahu jika dia goyah sedikit saja, seluruh hutan di lerengnya akan ikut luluh lantak. Itulah yang kurasakan dari sosok Ayah belakangan ini.
Sejak kejujuran Paman Erlan di gudang malam itu, dinding es yang menyelimuti Ayah mulai mencair, menyisakan reruntuhan kenangan yang selama ini dia kubur rapat-rapat di bawah lantai semen bengkelnya.
Malam ini, hujan turun rintik-rintik, menciptakan suara ketukan ritmis di atap seng bengkel. Aku menemukan Ayah sedang duduk di kursi kayu tuanya, bukan sedang memperbaiki mesin, melainkan hanya menatap sebuah foto hitam putih yang sudah sangat usang. Di dalam foto itu, ada tiga pria: Kakek, Ayah sewaktu muda, dan Paman Erlan yang masih kecil.
"Hilman, sini duduk," panggil Ayah tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi menggelegar seperti guntur, melainkan lirih seperti debu yang tertiup angin.
Aku mendekat, duduk di atas sebuah ban bekas di sampingnya. Bau oli dan karat yang biasanya terasa mengancam, entah kenapa malam ini terasa seperti pelukan masa lalu yang hangat.
"Kamu pasti sering bertanya-tanya, kenapa Ayahmu ini galak sekali? Kenapa Ayah seperti batu yang tidak bisa disentuh?" Ayah mengelus permukaan foto itu dengan jempolnya yang kapalan.
"Ayah hanya ingin kami jadi orang hebat," jawabku hati-hati.
Ayah tertawa getir. "Hebat itu relatif, Hilman. Dulu, waktu Ayah seumurmu, kota ini belum penuh dengan pabrik. Hidup itu sangat sulit. Kakekmu adalah seorang buruh kasar yang sering dihina orang karena tidak punya apa-apa. Ayah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Kakekmu diludahi oleh mandor karena telat datang kerja sepuluh menit."
Ayah menarik napas panjang, matanya menerawang menembus kegelapan bengkel. "Kakekmu memegang bahu Ayah saat itu dan berkata, 'Yanto, kalau kamu mau selamat di dunia ini, kamu harus jadi batu. Jangan jadi tanah yang gampang diinjak, jangan jadi air yang cuma bisa ngikutin wadahnya. Jadi batu, biar orang yang nendang kamu yang bakal sakit kakinya'."
"Nasihat itu Ayah telan bulat-bulat, Hilman. Ayah pikir, dengan menjadi keras, Ayah bisa melindungi Erlan, Ibu, kamu, dan Adit dari hinaan dunia. Ayah pikir, kalau Ayah membentak kalian, dunia tidak akan berani membentak kalian. Ayah lupa... kalau batu yang terlalu keras juga bisa menghancurkan apa pun yang mencoba bersandar padanya."
Aku terdiam. Jadi, inilah akar dari segala kekakuan di Rumah Batu. Sebuah trauma kemiskinan yang diwariskan lewat pesan yang salah. Ayah bukan sedang membenci kami, beliau sedang "mempersenjatai" kami agar tidak terluka oleh dunia yang pernah melukainya. Tapi senjatanya terlalu berat, sampai-sampai kami semua kelelahan memanggulnya.
"Ayah menyesal?" tanyaku pelan.
Ayah menatapku, matanya berkaca-kaca di bawah cahaya lampu neon yang redup. "Penyesalan itu seperti karat, Hilman. Dia tidak muncul dalam semalam. Dia pelan-pelan menggerogoti besi sampai akhirnya besinya patah. Ayah melihat Adit jadi sombong karena dia pikir kesuksesan adalah satu-satunya cara supaya nggak dihina. Ayah melihat kamu jadi pendiam karena takut salah. Dan Ayah melihat Erlan... adikku yang pintar itu, harus pura-pura jadi orang bodoh cuma supaya Ayah nggak merasa bersalah."
"Paman Erlan sayang sekali sama Ayah," kataku mencoba menghibur.