Ada sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh lantai dapur Rumah Batu.
Di bawah keramik tua berwarna krem yang sudah retak di sudutnya, Ibu selalu menyisipkan sisa-sisa ketakutannya. Ibu adalah tipe perempuan yang percaya bahwa kebahagiaan itu seperti porselen mahal, indah dipandang namun sangat mudah pecah, sehingga dia lebih memilih untuk hidup dalam kewaspadaan yang melelahkan daripada ketenangan yang semu.
Pagi ini, suasana rumah terasa sangat ganjil. Ayah tidak lagi membanting pintu saat keluar menuju bengkel. Sebaliknya, beliau sempat berhenti di meja makan, mengusap bahu Ibu singkat, dan berkata, “Lilis, kopinya enak. Terima kasih.”
Kalimat sederhana itu seharusnya menjadi musik yang indah, namun bagi Ibu, itu terdengar seperti lonceng peringatan. Begitu Ayah menghilang di balik pintu samping, Ibu terduduk lemas di kursi dapur. Tangannya yang memegang serbet gemetar.
“Hilman, kamu lihat tadi?” tanya Ibu lirih.
Aku yang sedang merapikan tas kerja menoleh. “Lihat apa, Bu? Ayah bilang terima kasih? Itu kan bagus.”
Ibu menggeleng kuat-kali. “Bukan, Hilman. Ayahmu itu batu. Batu itu tidak pernah memuji kecuali dia sedang retak. Ibu takut... Ibu takut Ayahmu sudah menyerah pada keadaan. Ibu takut kalau dia melunak, itu artinya dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melindungi kita dari bank.”
Aku tertegun. Jadi inilah beban pikiran Ibu. Baginya, kekerasan Ayah adalah jaminan keamanan. Sebuah logika yang bengkok namun tumbuh subur di dalam kepala seorang perempuan yang sudah puluhan tahun dididik oleh kemiskinan dan tuntutan sosial.
“Ibu nggak perlu takut. Ayah cuma lagi belajar jadi manusia, bukan cuma jadi mekanik,” ujarku mencoba menenangkan.
“Manusia itu lemah, Hilman! Di dunia ini, orang baik itu diinjak-injak. Ibu sudah lihat itu berkali-kali,” suara Ibu meninggi, matanya menatap tajam ke arah ubin dapur yang retak itu.
Tiba-tiba, Paman Erlan masuk dengan siulan ringannya. Dia membawa sekantung plastik berisi kerupuk kaleng. “Waduh, pagi-pagi kok sudah ada drama 'Ibu Guru yang Cemas'. Ada apa ini, Nyi?”
Ibu menatap Paman Erlan dengan tatapan yang tajam. “Ini semua gara-gara kamu, Erlan! Kamu mempengaruhi Yanto sampai dia jadi lembek begitu! Kamu tidak tahu betapa bahayanya kalau kepala keluarga kehilangan taringnya!”
Paman Erlan meletakkan kerupuknya di atas meja dengan tenang. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Ibu. “Nyi, gigi yang paling tajam itu justru yang paling gampang tanggal kalau sudah tua. Tapi gusi? Gusi itu lembut, tapi dia yang megang gigi tetap di tempatnya. Kenapa Nyi nggak coba jadi gusi buat Kak Yanto?”
“Kamu selalu bicara pakai perumpamaan bodoh!” Ibu menyambar serbetnya dan mulai mengelap meja dengan kasar. “Kamu tidak tahu rasanya jadi saya. Saya tutup kuping dari omongan tetangga soal bengkel yang sepi. Saya jaga muka di depan Rani. Saya dukung sifat keras Yanto, karena saya pikir itu satu-satunya cara supaya kita tetap berdiri tegak!”
Ibu mulai terisak. Luka yang selama ini tersimpan di bawah keramik tua itu akhirnya merembes keluar. “Sekarang, kalau Yanto melunak, siapa yang akan jadi tameng saya? Siapa yang akan membentak petugas bank kalau mereka datang lagi? Saya capek, Erlan. Saya capek pura-pura kuat, tapi saya lebih takut kalau kita kelihatan lemah.”
Paman Erlan terdiam sejenak. Dia bangkit, menuju kompor, dan menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi teh sisa. Dia memberikan teh itu kepada Ibu. “Nyi Lilis... luka itu kalau cuma ditutupin pakai keramik, dia bakal busuk di dalem. Rumah ini dindingnya emang batu, tapi hatinya nggak boleh jadi batu juga.”