Tujuh hari. Di kalender, itu hanyalah deretan angka yang berbaris rapi. Namun di Rumah Batu, tujuh hari terasa seperti hitung mundur menuju sebuah eksekusi.
Malam itu, setelah kabar tentang surat penyitaan itu meledak, tidak ada seorang pun yang berani memejamkan mata. Langit di luar sana sedang mengamuk, petir menyambar-nyambar seperti cambuk cahaya yang ingin merobek kegelapan, dan suara guntur menggelegar seolah-olah sedang menertawakan nasib kami.
Namun, badai yang paling besar sebenarnya sedang terjadi di bawah atap rumah kami sendiri.
Di ruang tamu, kami semua duduk melingkar di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip gelisah. Di tengah meja, surat dari pengadilan itu tergeletak dingin, selembar kertas yang memiliki kekuatan untuk menghapus sejarah puluhan tahun kerja keras Ayah.
"Ini mustahil," gumam Adit sambil memegangi kepalanya. "Angka yang harus kita bayar dalam tujuh hari itu setara dengan gaji saya selama dua tahun. Dari mana kita dapat uang sebanyak itu dalam seminggu? Jual ginjal?"
"Adit! Jaga bicaramu!" bentak Ibu, namun suaranya lebih banyak mengandung ketakutan daripada kemarahan.
Ayah hanya diam. Beliau menatap surat itu dengan tatapan seorang jenderal yang melihat benteng terakhirnya mulai runtuh. Tangan beliau yang kasar dan penuh noda oli itu mencengkeram pinggiran meja jati sampai buku-buku jarinya memutih.
"Ayah tidak akan membiarkan bengkel itu diambil," suara Ayah rendah, hampir seperti geraman. "Bengkel itu adalah nyawa rumah ini. Kalau bengkel itu hilang, Rumah Batu ini cuma tinggal nisan."
Paman Erlan, yang sejak tadi berdiri di pojok ruangan sambil memperhatikan tetesan air hujan yang masuk lewat ventilasi, akhirnya melangkah maju. Dia meletakkan sebuah kantong kain kusam di atas meja. Bunyi klunting yang keluar dari dalamnya menandakan isinya adalah tumpukan logam.
"Apa ini, Paman?" tanyaku.
"Ini recehan yang Paman kumpulkan dari setiap karung beras yang Paman panggul selama ini. Paman tadinya mau pakai ini buat beli kambing buat kurban, tapi sepertinya kurbannya harus ganti jadi kurban harga diri," Paman Erlan membuka ikatannya. Di dalamnya ada uang recehan dan lembaran ribuan yang sudah sangat lecek.
Adit tertawa pahit. "Paman, itu mungkin cuma cukup buat bayar parkir petugas sitanya. Kita butuh puluhan juta, bukan ribuan!"
Paman Erlan menatap Adit dengan sorot mata yang tajam, sorot mata yang membuat Adit langsung bungkam. "Dit, laut itu dalam karena kumpulan tetesan air. Kamu meremehkan ribuan ini, padahal ribuan inilah yang selama ini bikin Paman tetap punya harga diri meskipun baju Paman bau keringat."
Paman Erlan duduk di kursi rotannya yang mulai reot. "Dengerin semuanya. Kita punya tujuh hari. Kalau kita pakai cara 'batu', yaitu diam dan nunggu dihancurkan, kita pasti kalah. Tapi kalau kita pakai cara 'air', yaitu mengalir dan mencari setiap celah, kita masih punya peluang."
"Apa rencananya, Erlan?" tanya Ayah, kini sepenuhnya memberikan perhatian pada adiknya.
"Pertama, kita harus jujur. Besok, Adit, kamu datang ke kantor pusat bank itu. Jangan pakai jas mahalmu. Pakai baju biasa. Tunjukkan kalau kita memang sedang jatuh, tapi tunjukkan kalau kita punya iktikad buat bayar. Minta keringanan bunga, atau apa pun istilah orang kantor itu. Intinya, kita harus beli waktu," instruksi Paman Erlan.
"Kedua, Hilman. Kamu bilang di pabrik banyak teman-temanmu yang punya motor tapi nggak sempat servis ke kota karena sibuk lembur? Besok kamu bikin selebaran sederhana. Kasih tahu mereka kalau Bengkel buka layanan 'Servis Jemput Bola'. Ayahmu yang bakal ke pabrik mereka, atau Paman yang ambil motornya."
Aku mengangguk cepat. "Iya, Paman. Banyak teman-temanku yang motornya sudah bunyi 'klotok-klotok' tapi dipaksa jalan terus."
"Ketiga, Kak Yanto. Kakak jangan cuma duduk nunggu pelanggan. Semua suku cadang lama yang numpuk di belakang, yang masih bagus tapi sudah karatan dikit, bersihkan semua. Kita bikin 'Obral Suku Cadang Bekas Berkualitas'. Jual murah saja, yang penting jadi uang tunai cepat."
Ayah tampak menimbang-nimbang. Menjual suku cadang lama dengan harga murah adalah hal yang paling dibenci Ayah selama ini. Beliau selalu menganggap barang-barangnya adalah barang berharga. Namun, malam ini, Ayah mengangguk. "Baik. Saya lakukan."
"Dan Nyi Lilis," Paman Erlan menoleh ke Ibu. "Nyi punya banyak perhiasan simpanan, kan? Emas-emas kecil yang Nyi beli?"
Ibu tersentak, memegang lehernya. "Itu... itu kan buat cadangan masa depan, Erlan..."
"Masa depan itu sekarang, Nyi. Kalau rumah ini disita, emas itu nggak bakal ada gunanya kalau kita harus tidur di kolong jembatan," suara Paman Erlan melunak. "Saya nggak minta Nyi jual semua. Tapi gadaikan dulu. Kalau kita berhasil lewati tujuh hari ini, saya janji bakal bantu tebus itu semua."
Ibu menatap Ayah. Ayah memalingkan muka, merasa bersalah karena telah membuat istrinya harus mengorbankan perhiasannya. Namun, Ibu menarik napas panjang, masuk ke kamar, dan keluar membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Pakai ini juga," suara Ibu bergetar, namun matanya menunjukkan keberanian yang luar biasa. "Ini ada kalung sama dua cincin. Gadaikan saja."
Suasana di ruang tamu mendadak berubah. Badai di luar masih mengamuk, tapi badai ego di dalam sini mulai mereda menjadi sebuah kolaborasi yang solid. Kami mulai membagi tugas. Adit mulai mencatat apa saja yang harus dia katakan di bank. Aku mulai mengambil buku gambarku, bukan untuk menggambar pemandangan, tapi untuk merancang poster iklan bengkel yang paling menarik.