Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #18

Sandiwara Depan Tetangga

​Kemenangan semalam atas surat penyitaan itu tidak serta-merta menghapus mendung di langit kota ini.

Memang, Rumah Batu tidak jadi berganti kepemilikan, tapi ia kini menyisakan aroma yang aneh: campuran bau oli, keringat yang mengering, dan sisa air banjir yang masih mengendap di sela-sela ubin. Kami selamat, tapi kami semua babak belur. Tubuh kami pegal-pegal, tulang kami seolah mau lepas, dan yang paling parah, kami kini memikul beban moral bernama "belas kasihan Paman Johan".

​Namun, bagi Ibu, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada kehilangan rumah: kehilangan muka.

​"Hilman! Bantu Ibu pindahkan pot-pot bunga ini ke depan!" teriak Ibu pagi-pagi sekali. Wajahnya yang kemarin pucat pasi dan penuh air mata, kini sudah tertutup bedak tebal yang dipaksakan. Beliau memakai daster batiknya yang paling bagus, seolah-olah tujuh hari kemarin yang penuh lumpur tidak pernah terjadi.

​"Bu, kenapa harus dipindahkan? Kita kan baru saja istirahat," keluhku sambil menggosok mata yang masih merah karena kurang tidur.

​"Jangan banyak tanya! Hari ini Arisan Lingkungan, dan bulan ini giliran rumah kita. Ibu tidak mau mereka melihat sisa-sisa banjir di teras. Semprot semuanya pakai pembersih lantai yang paling wangi. Jangan sampai ada bau apek!" perintah Ibu dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Aku melirik ke arah Arah. Beliau sedang duduk terdiam, memandangi amplop cokelat dari Paman Johan yang kini isinya sudah berpindah ke rekening bank. Adit juga tampak sibuk menyemir sepatunya, bersiap kembali ke kantor dengan citra "supervisor sukses" yang telah retak namun coba dilem kembali.

​"Lihat kita," bisik Paman Erlan yang tiba-tiba muncul di sampingku, sedang menyeruput kopi hitamnya. "Baru saja lolos dari lubang jarum, sekarang sudah sibuk memasang topeng lagi. Nyi Lilis itu hebat ya, Man? Hatinya boleh hancur, tapi teras rumah harus tetap kinclong."

​"Gengsi itu mahal harganya, Paman," jawabku pelan sambil mulai menyemprot lantai.

​"Bukan mahal, Man. Gengsi itu gratis, tapi cicilannya seumur hidup," Paman Erlan tertawa kecil, lalu kembali menyeruput kopinya.

​Siang harinya, "pasukan" arisan itu datang. Dipimpin oleh Bibi Rani yang memakai kerudung sutra berkilauan dan tas bermerek yang sengaja diletakkan paling depan di meja jati. Mereka masuk ke Rumah Batu dengan senyum yang manis, tapi mata mereka bergerak liar seperti sensor pendeteksi kemiskinan. Mereka mencari retakan, mereka mencari debu, mereka mencari tanda-tanda bahwa kabar burung soal penyitaan rumah itu benar adanya.

​"Wah, Jeng Lilis! Rumahnya makin asri ya," ujar salah satu ibu dengan nada yang sedikit berlebihan. "Dengar-dengar kemarin sempat ada petugas bank datang? Ah, pasti salah alamat ya?"

​Ibu tertawa, tawa yang terdengar sangat renyah sekaligus palsu. "Halah, Jeng... itu kan cuma petugas yang mau menawarkan program tabungan baru. Biasalah, kalau orang lihat Rumah Batu ini kokoh, pasti dikira banyak uangnya sampai mau disuruh nabung terus."

​Aku yang sedang bertugas mengantarkan teh manis hampir saja tersedak mendengar kebohongan itu. Ayah yang sedang duduk di sudut ruang tamu pura-pura sibuk membaca koran, padahal aku tahu beliau tidak membaca satu huruf pun. Adit keluar dari kamar dengan kemeja rapi, menyapa para tamu dengan sopan, seolah-olah kemarin dia tidak pernah menangis di pinggir genangan banjir.

​Sandiwara ini sangat sempurna. Kami adalah aktor-aktor terbaik.

​"Tapi kok mobil Adit nggak kelihatan?" tanya Bibi Rani, serangan telak yang ditunggu-tunggu. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Katanya ditarik kantor ya? Atau... ditarik leasing?"

Lihat selengkapnya