Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #19

Kursi Kosong Paman Erlan

​Pagi itu, Rumah Batu terbangun dengan suasana yang ganjil. Tidak ada bau rokok linting yang biasanya menguar dari teras, tidak ada suara siulan pelan yang menirukan kicauan burung, dan yang paling terasa hilang adalah suara gesekan sapu lidi di halaman yang biasanya menjadi jam waktu alami bagi kami semua.

​Aku keluar ke ruang tengah, mataku tertuju pada sudut ruangan tempat kursi rotan tua itu berada. Kursi itu kosong. Hanya ada sebuah gelas kopi yang sudah dingin dengan sisa ampas yang mengering di dasarnya. Kursi itu tampak seperti sebuah lubang hitam di tengah ruangan, menyedot semua keceriaan yang sempat kami bangun dengan susah payah selama tujuh hari perjuangan kemarin.

​"Paman! Paman Erlan!" panggilku, suaranya menggema di lorong rumah yang sepi.

​Tidak ada jawaban. Aku bergegas ke gudang belakang, tempat Paman Erlan biasanya menggelar kasur tipisnya. Kasur itu sudah rapi, sesuatu yang jarang terjadi. Bantalnya yang kempes diletakkan di tengah, dan di atasnya ada sebuah bungkusan kain kecil.

​Jantungku berdegup kencang. Aku segera menuju dapur. Di sana, Ibu sedang menyeduh teh dengan gerakan yang kaku. Wajahnya masih terlihat sisa-sisa amarah dari kejadian arisan kemarin.

​"Bu, Paman Erlan mana?" tanyaku dengan nada mendesak.

​Ibu tidak menoleh. Beliau terus mengaduk tehnya, bunyi denting sendoknya terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sebuah ledakan. "Sudah pergi. Tadi subuh dia pamit."

​"Pamit? Pamit ke mana? Paman kan tidak punya siapa-siapa lagi selain kita!" seruku, rasa cemas mulai merayap di dadaku.

​Ibu akhirnya berbalik. Matanya yang sembap menunjukkan bahwa beliau tidak tidur nyenyak, tapi ego masih menguasai suaranya. "Katanya dia tidak mau jadi 'pengganggu pemandangan' lagi. Dia bilang dia mau kembali ke pasar, tidur di sana saja lebih bebas katanya. Baguslah, rumah ini jadi tidak terlalu sesak dan berantakan."

​Aku terperangah. "Ibu mengusirnya?"

​"Ibu tidak mengusir! Ibu cuma bilang kalau dia harus tahu diri sedikit kalau ada tamu! Tapi dia malah merasa tersinggung," Ibu membanting sendok ke meja. "Kenapa kamu jadi menyalahkan Ibu? Ibu ini berusaha menjaga nama baik keluarga kita, Hilman!"

​"Nama baik yang mana, Bu? Nama baik yang kita beli dengan keringat Paman Erlan memanggul mesin di tengah banjir kemarin?!" suaraku meninggi, sebuah keberanian yang jarang kutunjukkan pada Ibu.

​Tiba-tiba Ayah masuk ke dapur. Rambutnya berantakan dan matanya merah. Beliau memegang sebuah kertas lusuh yang kuduga adalah pesan dari Paman Erlan. Ayah tidak bicara sepatah kata pun. Beliau hanya duduk di kursi makan, menatap kosong ke arah piring sarapannya.

​"Erlan cuma pergi sebentar. Paling nanti malam juga balik lagi kalau sudah lapar," ujar Ibu, mencoba mencari pembenaran.

Lihat selengkapnya