Rumah Batu selalu punya cara untuk membungkam suara-suara yang terlalu berisik. Bagi Ayah, ketenangan adalah bentuk kendali. Bagi Ibu, kesunyian adalah selimut untuk menyembunyikan malu.
Namun, pagi ini, protokol kesunyian itu hancur berantakan oleh suara derit pagar yang dibuka paksa dan langkah sepatu bot yang menghentak keras di atas lantai ruang tamu.
Rara telah pulang.
Adikku itu berdiri di tengah ruangan dengan ransel besar yang tampak berat dan rambut pendek yang dipotong asal-asalan, sangat jauh dari citra "gadis santun" yang selalu Ibu banggakan di depan ibu-ibu arisan. Dia tidak datang dengan senyum manis atau cium tangan yang khidmat. Dia datang dengan napas yang memburu dan mata yang menyala-nyala seperti api unggun di tengah hutan pinus.
"Rara? Kenapa kamu pulang sekarang? Bukannya kamu harusnya masih di asrama sampai akhir bulan nanti?" suara Ibu melengking, penuh dengan nada interogasi yang kental.
Rara melempar ranselnya ke atas kursi rotan kosong milik Paman Erlan. Suara gedebuk ransel itu terdengar seperti tantangan perang. "Rara keluar, Bu. Rara nggak mau balik lagi ke tempat penjara suci itu."
"Apa kamu bilang?!" Ayah muncul dari arah gudang, masih memegang lap kotor yang penuh noda hitam. "Kamu keluar? Siapa yang izinkan kamu keluar?!"
"Rara yang izinkan diri Rara sendiri, Yah!" jawab Rara tanpa gentar. Dia menatap Ayah tepat di mata, sesuatu yang bahkan Adit pun jarang berani melakukannya. "Rara capek dikirim jauh-jauh cuma supaya Ibu nggak malu punya anak perempuan yang hobinya naik gunung dan pakai baju laki-laki. Rara capek jadi pajangan di katalog 'Keluarga Bahagia Ki Yanto'!"
Aku berdiri di ambang pintu dapur, terpaku. Rara selalu menjadi yang paling berani di antara kami. Jika Adit adalah batu yang keras karena tekanan, dan aku adalah pasir yang pasrah, maka Rara adalah dinamit yang menunggu sumbu yang tepat untuk meledak. Dan sepertinya, kepergian Paman Erlan adalah sumbu itu.
"Jaga bicaramu, Rara! Ibu melakukan itu supaya kamu punya masa depan yang terhormat!" Ibu mendekati Rara, mencoba meraih tangannya, namun Rara menghindar.
"Terhormat menurut siapa, Bu? Menurut Bibi Rani yang bermulut tajam itu? Atau menurut Paman Johan yang suka menghina kita?" Rara tertawa sinis. "Rara sudah dengar soal Paman Erlan. Rara ketemu Paman di terminal tadi."
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Nama Paman Erlan yang baru saja disebut membuat luka yang masih basah di rumah ini kembali berdenyut.
"Paman Erlan... kamu ketemu dia?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh harap.
Rara menoleh padaku, sorot matanya sedikit melunak. "Iya, Mas Hilman. Paman Erlan kelihatan lebih bahagia di terminal bus daripada di rumah megah yang dingin ini. Paman bilang, dia akhirnya bisa napas lagi. Dan Rara sadar, kalau Paman yang sudah setua itu saja berani cari udara segar, kenapa Rara harus tetap di sini dan mati pelan-pelan karena sesak?"
"Rara, masuk ke kamarmu sekarang! Kita bicara nanti setelah kepalamu dingin!" bentak Ayah, urat-urat di lehernya menonjol.
"Kepala Rara sudah sangat dingin, Yah. Sedingin lantai rumah ini," Rara melangkah menuju kamarnya, tapi dia berhenti sejenak di depan foto keluarga besar kami yang terpajang di dinding. "Rumah ini namanya Rumah Batu, tapi isinya cuma kerikil-kerikil yang saling berbenturan. Nggak ada yang benar-benar jadi pondasi."
Rara membanting pintu kamarnya, meninggalkan kami dalam keheningan yang menyakitkan.