Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #21

Puncak Gunung Es

​Ada satu hukum alam yang tidak bisa dibantah oleh batu sekeras apa pun: di bawah permukaan laut yang tenang, sebuah gunung es menyimpan bagian terbesarnya yang paling berbahaya.

Selama ini, Rumah Batu adalah permukaan tenang itu. Kami menyisir rambut dengan rapi, memakai parfum untuk menutupi bau keringat, dan tersenyum di depan pagar demi menjaga martabat. Namun, di bawah lantai ini, rahasia-rahasia kami telah membeku menjadi massa raksasa yang siap menabrak apa saja.

​Hari ini, tabrakan itu akhirnya terjadi.

​Semuanya bermula dari sebuah tas jinjing milik Adit yang tertinggal di atas meja ruang tamu. Adit pergi terburu-buru pagi tadi setelah perdebatan singkat dengan Rara. Biasanya, tidak ada yang berani menyentuh barang milik Adit.

Namun, Ibu, yang masih dalam mode waspada dan curiga setelah "pemberontakan" Rara kemarin, melihat sebuah ujung amplop merah menyembul dari sela-sela ritsleting tas yang terbuka.

​Insting seorang ibu seringkali merupakan berkah, namun di rumah ini, ia lebih sering menjadi kutukan.

​Ibu menarik amplop itu. Aku, yang sedang duduk di kursi rotan kosong milik Paman Erlan sambil meraut pensil, melihat tangan Ibu mulai gemetar. Wajahnya yang tertutup bedak tipis perlahan memucat, berubah menjadi sewarna kertas yang sedang dipegangnya.

​"Hilman... baca ini," suara Ibu tercekat di tenggorokan.

​Aku mendekat, mengambil kertas itu. Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu bukan sekadar surat tagihan. Itu adalah surat pemutusan hubungan kerja. Adit sudah tidak bekerja di kantornya sejak dua bulan yang lalu karena kasus penyelewengan dana proyek yang digunakan untuk menutupi gaya hidup mewahnya... dan sebagian lagi, ironisnya, untuk membayar cicilan renovasi bagian depan Rumah Batu agar terlihat lebih megah di mata Bibi Rani.

​Di bawah surat PHK itu, ada rincian utang pribadi Adit pada beberapa pinjaman online yang bunganya sudah beranak-pinak, membentuk angka yang membuat kepalaku pening.

​"Jadi... selama ini Mas Adit berbohong? Setiap pagi dia pakai kemeja rapi, pamit kerja, itu semua sandiwara?" bisikku tak percaya.

​"Bukan cuma sandiwara," Rara muncul dari arah kamarnya, menyandarkan tubuh di kusen pintu dengan tangan bersedekap. "Mas Adit itu korban dari ambisi kalian. Dia dipaksa jadi sukses, dipaksa jadi kaya, sampai dia nggak punya pilihan selain mencuri untuk tetap kelihatan jadi 'puncak gunung es' yang berkilau."

​"Diam kamu, Rara!" teriak Ibu, namun kali ini suaranya tidak memiliki kekuatan. Ibu luruh ke lantai, menggenggam surat-surat itu seolah-olah itu adalah serpihan hidupnya yang hancur.

​Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Adit masuk dengan langkah gontai. Dia tampak lelah, bahunya merosot, dan dasinya sudah dilepas. Dia berhenti seketika saat melihat pemandangan di ruang tamu: Ibu yang bersimpuh di lantai dan aku yang memegang "dosa-dosanya".

Lihat selengkapnya