Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #22

Dingin yang Menusuk Tulang

​Pagi ini tidak sedang turun hujan, namun udara di dalam Rumah Batu terasa jauh lebih menggigit daripada es yang baru keluar dari lemari pendingin. Dingin ini tidak datang dari angin utara atau embun di dedaunan, melainkan merembes keluar dari pori-pori dinding semen yang selama ini kita banggakan. Dingin yang merayap dari telapak kaki, naik ke sumsum tulang, dan berhenti tepat di ulu hati, membuat napas terasa sesak dan kata-kata membeku di lidah.

​Pasca terbongkarnya rahasia Adit kemarin, rumah ini berubah menjadi sebuah museum kesedihan. Tidak ada suara denting spatula dari dapur. Tidak ada suara radio Ayah yang biasanya menyiarkan berita pagi. Yang ada hanyalah kesunyian yang bising, jenis kesunyian yang membuat telinga berdenging karena terlalu banyak hal yang ingin diteriakkan namun tidak ada satu pun yang berani memulai.

​Ibu duduk di meja makan, namun beliau tidak menyentuh apa pun. Beliau hanya menatap taplak meja motif bunga-bunga itu dengan pandangan kosong. Rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini tampak berantakan, dan untuk pertama kalinya, Ibu tidak memakai bedak. Tanpa riasan itu, wajah Ibu terlihat sangat tua, sangat lelah, dan sangat rapuh. Garis-garis keriput di sudut matanya bercerita lebih banyak tentang penderitaan daripada tangisannya semalam.

​"Bu, makan sedikit ya? Hilman buatkan bubur," ujarku pelan sambil meletakkan semangkuk bubur hangat di depannya.

​Ibu tidak menjawab. Beliau bahkan tidak berkedip. Beliau seperti patung garam yang siap hancur jika tersentuh sedikit saja.

​"Rara mana?" suara Ayah memecah keheningan. Beliau muncul dari arah belakang, namun beliau tidak menuju bengkel. Ayah memakai sarung dan kaos dalam putih yang sudah menguning. Beliau tampak kehilangan wibawanya. Singa tua itu kini terlihat seperti kucing yang basah kuyup.

​"Masih di kamar, Yah. Tadi Hilman ketuk pintunya, tapi dia bilang mau sendiri dulu," jawabku.

​Ayah duduk di kursi utama. Beliau mengambil sendok, namun tangannya gemetar hebat. Ting! Sendok itu jatuh ke lantai, suaranya bergema seperti ledakan bom di tengah kesunyian itu. Ayah membiarkannya. Beliau tidak mengambilnya. Beliau hanya menatap tangannya yang hitam karena oli, seolah-olah noda itu adalah dosa yang tidak bisa dihapus.

​"Adit?" tanya Ayah lagi, suaranya serak.

​"Sudah pergi tadi subuh, Yah. Katanya mau cari jalan keluar. Dia bawa map berisi ijazahnya," jelasku.

​Ayah tertawa pahit. Sebuah tawa yang lebih mirip dengan rintihan. "Jalan keluar? Di kota ini, sekali kamu jatuh, semua pintu bakal tertutup rapat, Hilman. Ayah sudah puluhan tahun di sini, Ayah tahu betul baunya orang-orang yang sedang diincar nasib buruk."

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar. Bukan ketukan yang sopan, melainkan ketukan yang menuntut.

Tok! Tok! Tok!

​Ibu tersentak. Bahunya menegang. Ketakutan terbesar Ibu akhirnya datang: tamu. Di rumah ini, tamu bukan lagi pembawa berkah, melainkan hakim yang siap menjatuhkan vonis.

​"Jangan dibuka, Hilman..." bisik Ibu. Matanya membelalak ketakutan. "Itu pasti orang bank. Atau penagih utang Adit. Atau tetangga yang mau mengejek kita."

​"Kita nggak bisa terus sembunyi, Bu," sahut Rara yang tiba-tiba muncul di koridor. Dia sudah memakai jaket gunungnya, siap untuk pergi entah ke mana. Rara berjalan melewati kami tanpa ekspresi dan membuka pintu depan dengan sentakan kasar.

​Di sana berdiri Bibi Rani. Kali ini dia tidak membawa tas bermerek atau senyum palsu. Dia membawa sebuah koran lokal dan wajah yang penuh dengan kepuasan yang disamarkan sebagai rasa prihatin.

​"Aduh, Lilis! Saya baru dengar kabarnya!" Bibi Rani merangsek masuk tanpa dipersilakan. Dia meletakkan koran itu di meja makan, tepat di samping mangkuk bubur Ibu. "Lihat ini! Ada berita soal penangkapan oknum karyawan perusahaan kontraktor yang menggelapkan dana. Memang tidak ada nama Adit secara jelas, tapi orang-orang di pasar sudah kasak-kusuk. Katanya Adit ditarik polisi ya?"

​Ibu memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar.

Lihat selengkapnya