Dunia tidak pernah berhenti berputar hanya karena satu keluarga sedang hancur lebur. Pagi itu, matahari muncul dengan wajah yang sama: terik, menyengat, dan tak peduli.
Namun bagi penghuni Rumah Batu, cahaya itu terasa seperti lampu sorot di ruang interogasi yang menelanjangi semua borok kami. Di meja makan, amplop-amplop tagihan milik Adit berserakan seperti bangkai kartu remi yang kalah taruhan. Angkanya tetap sama, tidak berkurang satu sen pun meski kami sudah menangis semalaman.
Ayah berdiri di ambang pintu bengkel. Beliau masih memakai kaos dalam putih yang kini tampak longgar di tubuhnya yang mendadak terlihat menyusut. Di tangannya, ada sebuah kunci Inggris besar yang sudah berkarat di beberapa bagian. Ayah menatap deretan mesin bubut, kompresor tua, dan lemari perkakas yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
“Panggil tukang loak besi tua yang biasa mangkal di ujung jalan, Hilman,” suara Ayah terdengar datar, tanpa emosi, seperti suara batu yang bergesekan.
Aku terkesiap. “Tukang loak, Yah? Kenapa nggak dijual ke bengkel besar saja? Harganya pasti lebih manusiawi.”
Ayah menoleh padaku. Matanya merah, kering, dan tak ada lagi binar kegagahan di sana. “Kita nggak punya waktu buat cari harga manusiawi. Nyawa Adit sedang dipertaruhkan. Orang-orang pinjaman itu nggak butuh mesin bubut, mereka butuh uang tunai sebelum matahari terbenam. Panggil sekarang.”
Aku berjalan dengan kaki yang berat menuju ujung gang. Memanggil tukang loak untuk mengangkut isi bengkel Ayah rasanya seperti memanggil algojo untuk menjemput anggota keluarga sendiri. Setiap langkahku terasa seperti pengkhianatan.
Tak lama kemudian, sebuah bak terbuka butut dengan suara mesin yang batuk-batuk berhenti di depan bengkel. Dua orang pria berbadan kekar turun dengan membawa timbangan gantung raksasa. Mereka menatap alat-alat Ayah bukan sebagai mahakarya teknik, melainkan sebagai tumpukan besi kiloan yang hanya dihargai beberapa ribu rupiah per unit beratnya.
“Ini semua, Pak?” tanya salah satu tukang loak sambil menunjuk kompresor buatan Jerman milik Ayah yang selama ini dirawat lebih teliti daripada kesehatan beliau sendiri.
Ayah hanya mengangguk pelan. Beliau memalingkan wajah, menyulut rokok lintingnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Proses "eksekusi" itu pun dimulai. Suara besi yang beradu dengan lantai semen terdengar sangat menyakitkan. Setiap kali mesin bubut itu digeser, suaranya seperti teriakan minta tolong. Kompresor itu diangkat, kunci-kunci pas dilempar ke dalam bak mobil seperti sampah tak berharga. Aku melihat Ayah terus membelakangi mereka, menatap ke arah sawah yang mulai mengering di kejauhan.
Ibu keluar dari rumah dengan wajah yang masih sembap. Beliau melihat alat-alat bengkel itu diangkut. Anehnya, Ibu tidak berteriak atau melarang. Ibu hanya diam, berdiri dengan tangan gemetar memegang pinggiran pilar batu. Mungkin Ibu baru sadar bahwa kemewahan marmer di dalam rumah ini sebenarnya ditopang oleh keringat dan minyak dari mesin-mesin yang kini sedang ditimbang kiloan itu.
“Kang… apa nggak ada jalan lain?” suara Ibu serak, hampir hilang ditelan deru mesin truk loak.
“Jalan lainnya adalah melihat Adit pulang dalam keadaan tinggal nama, Lis. Kamu mau pilih yang mana?” jawab Ayah tanpa menoleh.
Ibu terbungkam. Beliau masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat seolah-olah dengan menutup pintu, kenyataan pahit ini bisa ikut terhenti.
Rara muncul dari balik rumah, membawa segelas air putih untuk Ayah. Dia menatap tumpukan besi di atas bak mobil itu dengan tatapan tajam. “Yah… kalau semua ini habis, Ayah mau kerja apa?”