Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #24

Rahasia yang Mulai Terkelupas

​Rumah Batu selalu terasa seperti sebuah kotak penyimpanan rahasia yang terlalu rapat dikunci.

Namun, setelah badai ekonomi menghantam dan bengkel Ayah dikosongkan, dinding-dinding ini seolah mulai kehilangan kekuatannya untuk menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Seperti cat dinding yang mulai melepuh karena kelembapan yang ekstrem, rahasia-rahasia lama di rumah ini mulai terkelupas, menunjukkan lapisan-lapisan kelam yang selama ini tertutup oleh kemewahan palsu dan senyum yang dipaksakan.

​Malam itu, kesunyian di ruang tengah terasa berbeda. Bukan lagi kesunyian yang tegang, melainkan kesunyian yang rapuh. Ibu duduk di lantai, di depan sebuah lemari kayu tua yang biasanya terkunci rapat dan diletakkan di sudut kamar paling gelap. Lemari itu adalah satu-satunya barang yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh Ayah.

​"Hilman, sini bantu Ibu," suara Ibu terdengar parau, nyaris seperti bisikan angin yang lewat di celah ventilasi.

​Aku mendekat, meninggalkan buku sketsaku di atas meja. Aku melihat Ibu sedang memegang sebuah kotak beludru merah yang sudah kusam warnanya. Di dalamnya bukan emas atau berlian, karena semuanya sudah habis digadaikan untuk utang Adit. Isinya adalah tumpukan surat lama dan sebuah foto hitam putih yang pinggirannya sudah dimakan rayap.

​"Apa itu, Bu?" tanyaku pelan, ikut duduk bersila di sampingnya.

​Ibu mengusap foto itu dengan ibu jarinya yang gemetar. "Ini adalah alasan kenapa Ibu begitu keras kepala ingin rumah ini terlihat megah. Ini adalah alasan kenapa Ibu lebih takut dipandang miskin daripada takut mati."

​Aku melihat foto itu. Di sana ada seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Ibu, berdiri di depan sebuah gubuk bambu yang reyot. Wajahnya tampak kusam, matanya menyimpan kesedihan yang dalam. Di sampingnya ada seorang pria tua yang tampak kasar dan seorang anak kecil, yaitu Ibu saat masih sangat muda.

​"Dulu, Ibu bukan siapa-siapa, Hilman," Ibu mulai bercerita, suaranya mengalir seperti air yang akhirnya menemukan celah setelah tersumbat puluhan tahun. "Kakekmu dulu adalah buruh tani yang diusir dari tanahnya sendiri karena nggak bisa bayar utang. Kita pernah tidur di pinggir jalan, dihina oleh orang-orang pasar, bahkan pernah dilempari sisa makanan karena kita dianggap sampah."

​Ibu menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca memantulkan cahaya lampu yang temaram. "Ibu pernah berjanji pada diri sendiri, bahwa anak-anak Ibu nggak akan pernah merasakan dinginnya lantai tanah atau perihnya tatapan merendahkan dari orang lain. Ibu ingin membangun benteng yang begitu kuat, sampai nggak ada satu orang pun yang berani menganggap kita kecil lagi."

​Aku tertegun. Jadi, semua kegilaan gengsi ini, semua obsesi terhadap "apa kata orang", sebenarnya adalah bentuk perlindungan diri yang berlebihan dari trauma masa lalu. Rumah Batu ini bukan sekadar bangunan bagi Ibu, ini adalah baju zirah yang dia pakaikan pada kami agar kami tidak "terluka" oleh kemiskinan.

​"Tapi benteng itu malah jadi penjara buat kami, Bu," sahut Rara yang ternyata sudah berdiri di belakang kami sejak tadi. Dia tidak meledak marah seperti biasanya. Suaranya lembut, penuh simpati yang jujur.

​Ibu menoleh pada Rara, lalu kembali menatap foto tua itu. "Ibu tahu, Rara. Ibu baru sadar setelah melihat bengkel Ayahmu kosong. Ibu baru sadar kalau Ibu sedang mengulang kesalahan yang sama dengan orang-orang yang dulu menghina Ibu. Ibu begitu sibuk menghargai dinding ini, sampai lupa menghargai nyawa yang ada di dalamnya."

Lihat selengkapnya