Rumah Batu kini terasa seperti sebuah labirin yang dindingnya perlahan-lahan mulai menyempit. Setelah api melahap berkas-berkas lama semalam, suasana tidak lantas menjadi tenang. Abu yang berserakan di lantai marmer itu seolah-olah berubah menjadi debu-debu kegelisahan yang terbang ke setiap sudut ruangan. Kami tahu, dengan membakar dokumen itu, kami bukan menghapus masalah, melainkan baru saja memicu perang terbuka dengan Paman Johan.
Pagi ini, tidak ada lagi rutinitas "berpura-pura sukses". Ibu tidak lagi sibuk menyiram pot bunga di depan rumah hanya agar dilihat tetangga. Beliau duduk di meja makan, memegang sebuah buku tabungan kecil yang isinya hampir mencapai titik nol. Ayah berdiri di depan jendela yang tirainya dibiarkan terbuka lebar, menatap halaman depan yang kini terasa asing.
“Kita nggak bisa cuma diam menunggu Johan datang dengan pengacaranya,” suara Ayah memecah keheningan. Suaranya tidak lagi menggelegar, tapi ada ketegasan yang baru, jenis ketegasan orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan.
“Apa pintu keluarnya, Yah? Kalau tanah ini memang bermasalah secara hukum, kita pasti kalah di pengadilan,” Adit bersuara sambil memijat keningnya. Lebam di wajahnya mulai membiru, namun matanya tampak lebih jernih dari biasanya.
“Pintu keluar itu nggak selalu berupa pintu depan yang megah,” Rara menyambar, dia sedang sibuk mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus bekas. “Kadang pintu keluar itu adalah jendela kecil di dapur atau lubang tikus di gudang. Intinya, kita harus tahu kapan waktunya angkat kaki sebelum bangunannya roboh menimpa kita.”
Ibu mendongak. “Maksudmu, kita harus mengalah pada Johan?”
“Bukan mengalah, Bu. Tapi melepaskan,” Rara mendekati Ibu, memegang tangan wanita yang dulu selalu dia lawan itu. “Kalau kita terus bertahan di sini cuma karena gengsi, Paman Johan akan terus punya alat untuk menyiksa kita. Tapi kalau kita bilang pada dia bahwa rumah ini nggak lagi berharga buat kita, dia nggak akan punya kuasa apa-apa lagi.”
Aku melihat ke arah kursi rotan Paman Erlan. Di sana, aku seolah-olah melihat bayangan Paman sedang tertawa sambil menunjuk ke arah pintu belakang. Pintu belakang rumah kami menghadap langsung ke gang sempit yang menuju ke pemukiman buruh pabrik, dunia yang selama ini dianggap "rendah" oleh Ibu, tapi di sanalah Paman Erlan menghabiskan waktunya.
“Mas... ingat nggak kata Paman Erlan soal air?” tanyaku pada Adit.
Adit menatapku, mencoba mengingat. “Air selalu mencari celah?”
“Bukan cuma itu. Air itu fleksibel. Kalau dia dibendung di satu tempat, dia nggak akan memaksa menghancurkan bendungannya kalau dia nggak cukup kuat. Dia akan meresap ke dalam tanah atau menguap ke langit untuk kemudian turun di tempat lain,” aku menjelaskan sambil mengambil buku sketsaku. “Mungkin pintu keluar kita bukan memenangkan sengketa tanah ini, tapi meninggalkan tanah ini dengan cara kita sendiri.”
Ayah berbalik, menatap kami satu per satu. “Ayah punya sebidang tanah kecil di pinggiran kota, dekat daerah irigasi. Tanah itu pemberian Kakekmu dulu, jauh sebelum Johan ikut campur. Itu tanah kering, berbatu, dan nggak ada nilainya di mata orang seperti Johan. Tapi itu tanah yang sah, atas nama Ayah sendiri.”