Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #26

Malam Paling Berisik Dalam Sunyi

​Ini adalah malam terakhir. Di luar sana, kota sedang berbisik lewat desau angin yang menggesek dahan pohon mangga di halaman depan.

Namun di dalam Rumah Batu, suasananya begitu sunyi sehingga suara detak jantungku sendiri terdengar seperti palu yang memukul paku ke peti mati kenangan. Kami sudah mengemasi segalanya. Ruang tamu yang dulunya penuh dengan perabotan jati yang berat dan porselen yang berkilauan, kini hanyalah sebuah lapangan semen yang luas dan bergema.

​Namun, sunyi ini adalah penipuan. Sebab di dalam kepala kami masing-masing, malam ini adalah malam yang paling berisik yang pernah kami alami. Ada suara penyesalan yang berteriak, ada suara ketakutan yang merintih, dan ada suara harapan yang masih malu-malu untuk berbisik.

​Aku duduk di lantai tengah, bersandar pada pilar batu yang dingin. Di depanku, lilin kecil yang dibawa Rara masih menyala, apinya menari-nari ditiup angin yang masuk lewat celah pintu yang sengaja tidak dikunci.

​"Mas belum tidur?" Rara muncul dari kegelapan koridor. Dia tidak memakai jaket gunungnya, hanya kaos oblong hitam. Dia duduk di sampingku, memeluk lututnya.

​"Belum, Ra. Rasanya aneh kalau harus memejamkan mata di tempat yang besok bukan lagi milik kita," jawabku pelan.

​Rara menatap ke langit-langit rumah yang tinggi. "Mas tahu nggak, dulu waktu aku masih kecil, aku sering mengira rumah ini adalah raksasa yang bakal melindungi kita selamanya. Dindingnya tebal, pintunya besar. Tapi ternyata, raksasa ini nggak punya jantung. Dia cuma punya kerangka batu yang mengurung kita."

​"Kita yang lupa memberinya jantung, Ra," sahut Adit yang tiba-tiba ikut bergabung. Dia berjalan perlahan, langkah kakinya tidak lagi terdengar sombong seperti dulu. Dia duduk di sisi lain lilin, membentuk lingkaran kecil di tengah luasnya ruang tamu yang kosong. "Saya terlalu sibuk menghias kerangkanya supaya kelihatan hebat di mata orang, sampai saya nggak sadar kalau di dalamnya kita semua sedang kelaparan kasih sayang."

​Adit mengeluarkan sebuah dompet kulit yang sudah usang. Dia mengeluarkan foto kecil kami saat masih anak-anak, berpose di depan bengkel Ayah yang saat itu baru saja berdiri. "Lihat foto ini. Kita kelihatan lebih bahagia saat rumah ini masih berupa bedeng kayu daripada sekarang saat lantainya sudah marmer."

​Kami bertiga terdiam, menatap api lilin itu. Di dalam sunyi yang berisik ini, kami sedang melakukan perjalanan pulang ke diri kami yang sebenarnya.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah kamar utama. Ayah keluar dengan sarung yang disampirkan di pundak. Beliau membawa sebuah botol minyak kayu putih dan sebuah kain lap. Tanpa bicara, Ayah duduk di dekat kami dan mulai mengelap lantai marmer yang sudah kosong itu. Sebuah tindakan yang sia-sia, namun sangat simbolis.

​"Ayah sedang apa?" tanya Rara lembut.

​"Ayah cuma mau berpamitan sama lantai ini, Ra," suara Ayah berat, penuh dengan wibawa yang kini terasa lebih hangat. "Lantai ini sudah mencatat setiap langkah kegagalan Ayah. Dia sudah menampung keringat Ayah saat Ayah pulang kerja malam-malam. Ayah mau meninggalkan rumah ini dalam keadaan bersih, supaya Johan tahu bahwa meski dia bisa mengambil batunya, dia nggak bisa mengambil kehormatan seorang tukang yang tahu cara menghargai tempat tinggalnya."

​Ibu kemudian menyusul. Beliau tidak lagi menangis. Wajahnya tenang, seperti air telaga setelah badai besar lewat. Ibu membawa beberapa bungkus nasi kucing yang dibelinya di depan gang. "Makan dulu. Kita butuh tenaga buat angkat-angkat barang besok subuh."

Lihat selengkapnya