Tanah irigasi itu menyambut kami dengan aroma lumpur kering dan suara katak yang bersahut-sahutan. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, di sinilah pondasi hidup kami yang baru diletakkan. Sebuah gubuk kayu sederhana dengan atap seng yang sering berderit ditiup angin menjadi tempat berteduh sementara. Tidak ada marmer, tidak ada pilar batu yang angkuh. Yang ada hanyalah kejujuran tanah yang debunya menempel di ujung kuku.
Namun, perpindahan tempat tinggal ternyata tidak otomatis menghapus kebiasaan lama. Di bawah atap seng ini, Ibu masih sering terdiam dengan tatapan yang tajam, meski kini lidahnya tidak lagi seaktif dulu. Ada sesuatu yang tertinggal di Rumah Batu, atau mungkin, ada sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik lidah tajamnya yang kini mulai terungkap karena tekanan keadaan.
Sore itu, saat kami sedang sibuk merapikan barang-barang yang tersisa, sebuah kotak kayu kecil yang terselip di antara tumpukan kain tua terjatuh. Isinya berhamburan di atas lantai tanah yang baru saja kami sapu. Bukan emas, bukan pula surat berharga. Di sana ada sebuah ijazah sekolah rakyat yang sudah sangat kusam, sebuah sisir kayu yang patah, dan selembar surat wasiat yang ditulis dengan tinta yang sudah memudar.
Ibu, yang sedang merebus air di tungku darurat, tiba-tiba mematung melihat benda-benda itu. Beliau mendekat dengan langkah yang berat, lalu berlutut di atas tanah, memunguti benda-benda itu satu per satu dengan tangan yang gemetar.
"Ibu... itu apa?" tanyaku pelan, sambil membantu memunguti sisa-sisa foto lama.
Ibu tidak menjawab dengan kata-kata. Beliau hanya mendekap sisir kayu yang patah itu ke dadanya. Rara dan Adit yang baru saja datang membawa air dari sumur bor pun terhenti, merasakan aura yang berbeda dari Ibu. Tidak ada lagi Nyi Lilis yang galak, yang ada hanyalah seorang wanita tua yang tampak hancur di atas tanah yang selama ini ia benci.
"Ini adalah sisa-sisa dari rasa malu yang Ibu bawa seumur hidup, Hilman," bisik Ibu akhirnya. Suaranya serak, bercampur dengan isak tangis yang selama ini ia telan bulat-bulat demi menjaga martabat di depan tetangga.
Kami semua duduk melingkar di atas tikar pandan yang tipis. Sore di pinggiran irigasi itu terasa sangat panjang. Ibu mulai bercerita, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang selama ini bersarang di tenggorokannya.
"Kalian tahu kenapa Ibu selalu bicara tajam? Kenapa Ibu selalu menuntut kalian menjadi yang terbaik, menjadi yang terkaya, dan memiliki rumah paling megah?" Ibu menatap kami satu per satu. Matanya yang biasanya penuh tuntutan, kini penuh dengan luka. "Karena Ibu adalah anak dari seorang pembantu yang difitnah mencuri di rumah majikannya sendiri."
Kami semua terkesiap. Rahasia ini tidak pernah diceritakan bahkan oleh Ayah sekalipun.
"Majikan itu adalah pria tua yang bengis," lanjut Ibu dengan suara yang semakin bergetar. "Ibu melihat sendiri bagaimana nenek kalian diseret keluar dari rumah besar itu, dilempari batu, dan diteriaki 'maling' di depan seluruh penduduk desa. Lidah majikan itu begitu tajam, begitu beracun, sampai-sampai nenek kalian tidak pernah berani lagi keluar rumah sampai hari kematiannya. Beliau mati dalam keadaan merasa diri sebagai sampah, padahal beliau tidak pernah mengambil sepeser pun."