Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #28

Sisi Rapuh Ayah

​Jika Ibu adalah badai yang berisik, maka Ayah adalah gunung yang diam.

Selama bertahun-tahun hidup di Rumah Batu, aku terbiasa melihat Ayah sebagai pilar yang tak tergoyahkan. Beliau adalah pria yang bicara lewat bunyi kunci inggris yang beradu dengan mesin, lewat kepulan asap rokok linting di teras, dan lewat punggungnya yang selalu tampak tegak meski beban utang menghimpit. Bagi kami, Ayah adalah batu gunung: keras, dingin, dan pelindung.

​Namun, di tanah irigasi ini, di sebuah gubuk yang tidak memiliki dinding kedap suara, gunung itu mulai menampakkan retakannya.

​Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng gubuk kami menciptakan kegaduhan yang menyesakkan. Kami semua sudah mencoba untuk tidur, namun hawa dingin yang merembes dari celah-celah kayu membuat mata sulit terpejam.

Di tengah kegelapan itu, aku mendengar suara isak yang sangat tertahan. Sangat tipis, nyaris kalah oleh deru angin, namun terasa begitu menyayat.

​Aku membuka mata perlahan. Di sudut ruangan, dekat jendela kayu yang sedikit terbuka, aku melihat bayangan seseorang. Itu Ayah. Beliau sedang duduk di atas lantai tanah, memeluk lututnya, menatap ke arah kegelapan sawah di luar sana.

​Aku bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Rara, Adit, atau Ibu yang tampak kelelahan. Aku mendekati Ayah, membawa selembar kain sarung untuk menyelimuti pundaknya. Saat aku menyentuh bahunya, aku merasakan tubuh pria tua itu bergetar hebat.

​Ayah menoleh. Di bawah sisa cahaya lampu teplok yang hampir mati, aku melihat sesuatu yang selama ini kupikir mustahil: air mata mengalir deras di pipi Ayah yang kasar. Matanya yang biasanya tajam kini tampak kuyu, menyimpan duka yang sudah sangat lama dipendam sendirian.

​"Ayah... kenapa?" bisikku, duduk di sampingnya.

​Ayah segera menyeka air matanya dengan kasar, mencoba kembali menjadi sosok "batu gunung" yang tangguh. "Nggak apa-apa, Hilman. Cuma debu ditiup angin."

​"Di sini nggak ada debu, Yah. Cuma ada hujan," sahutku pelan. "Ayah jangan diam saja. Ayah sudah memikul semuanya sendirian terlalu lama."

​Ayah terdiam cukup lama. Beliau mengambil sebuah puntung rokok yang belum habis, namun tidak menyulutnya. Tangannya yang penuh luka lecet akibat memindahkan barang-barang kemarin tampak gemetar.

​"Ayah merasa gagal, Hilman," suaranya parau, pecah di tengah bunyi hujan. "Ayah ini kepala keluarga. Ayah ini laki-laki. Tapi Ayah nggak bisa jaga bengkel. Ayah nggak bisa jaga marwah rumah peninggalan kakek yang sudah Ayah bangun dan rawat selama puluhan tahun. Ayah malah membawa kalian ke gubuk becek ini."

​Inilah sisi rapuh Ki Yanto. Selama ini, kami mengira Ayah adalah orang yang paling pasrah dengan keadaan. Kami mengira Ayah tidak peduli saat bengkelnya dijual kiloan. Ternyata, di balik diamnya, Ayah sedang memukuli dirinya sendiri setiap detik. Beliau merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah habis bersama debu besi yang diangkut truk loak itu.

Lihat selengkapnya