Tanah irigasi ini seharusnya menjadi benteng terakhir kami, sebuah suaka kecil di mana kami bisa belajar menjadi manusia tanah yang jujur.
Namun, dunia ternyata tidak membiarkan sebuah pelarian berakhir dengan kedamaian instan. Masalah tidak berhenti hanya karena kita sudah pindah alamat. Terkadang, masalah itu seperti bayangan, semakin kita berlari menuju cahaya, semakin panjang bayangan kegelapan yang mengekor di belakang.
Pagi itu, suasana terasa sangat gerah. Angin tidak bertiup, meninggalkan uap panas yang keluar dari permukaan air irigasi yang kecokelatan. Ayah sedang sibuk mencangkul lahan di depan gubuk, peluhnya membasahi kaos oblong putihnya yang kini sudah penuh noda lumpur. Ibu sedang mencuci pakaian di pinggir sumur bor, sementara Adit sedang mencoba memperbaiki mesin pompa air yang batuk-batuk. Kami baru saja mulai merasa bahwa hidup ini mungkin bisa dijalani dengan cara yang sederhana.
Hingga suara deru mobil mewah membelah kesunyian itu.
Sebuah sedan hitam mengkilap, yang tampak sangat kontras dengan gubuk kayu kami dan jalanan tanah yang berdebu, berhenti tepat di depan lahan Ayah. Jantungku mencelos. Aku mengenali mobil itu. Aku mengenali aroma kesombongan yang keluar dari knalpotnya.
Paman Johan turun dari mobil. Kali ini dia tidak membawa pengacara. Dia membawa dua orang pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam dan kacamata gelap. Di tangannya, Paman Johan memegang sebuah map kuning besar, sebuah "senjata" baru untuk menghancurkan sisa-sisa kedamaian kami.
"Wah, wah... Kang sekarang sudah jadi petani? Sungguh pemandangan yang sangat... inspiratif," suara Paman Johan menggelegar, penuh dengan nada ejekan yang tidak ditutupi.
Ayah berhenti mencangkul. Beliau menegakkan punggungnya, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. "Apa lagi yang kamu cari, Johan? Rumah sudah kamu ambil. Alat bengkel sudah dijual. Kenapa kamu masih repot-repot datang ke tempat becek seperti ini?"
Paman Johan melangkah maju, kakinya yang memakai sepatu mahal tampak enggan menyentuh tanah yang tidak rata. Dia membuka map kuning itu di hadapan Ayah. "Aku ke sini untuk mengingatkanmu, Kang. Kamu pikir pindah ke sini berarti urusan selesai? Tanah irigasi ini... kamu tahu betul ini adalah tanah sengketa yang masih berada dalam pengawasan perusahaan besarku. Aku baru saja mengurus izin pengembangan kawasan di sini, dan gubuk kumuhmu ini berada tepat di jalur yang akan aku ratakan."
Duniaku serasa berputar. Tembok pertahanan yang kami bangun dari kejujuran beberapa malam terakhir seolah-olah dipukul dengan godam raksasa. Paman Johan tidak hanya ingin mengambil masa lalu kami, dia ingin mematikan masa depan kami.
"Kamu bohong, Johan! Ini tanah pemberian kakek!" teriak Ibu dari pinggir sumur, beliau berlari mendekat dengan tangan yang masih basah penuh busa sabun.
"Kakek sudah meninggal. Dokumen hukum bicara lebih keras daripada kenangan emosionalmu," Paman Johan tersenyum licik. "Aku punya sertifikat HGU yang mencakup lahan ini. Aku bisa saja membawa buldozer sore ini juga kalau aku mau. Tapi, karena aku masih menganggap kalian keluarga... aku beri kalian satu kesempatan lagi."
Paman Johan menatap Adit yang berdiri di belakang Ayah dengan tangan mengepal. "Adit, ikutlah bekerja denganku. Jadilah 'pion' di perusahaanku, tanda tangani beberapa dokumen pengalihan aset yang belum selesai, dan aku akan biarkan orang tuamu tinggal di sini sampai mereka mati. Tapi kalau tidak... kalian semua harus pergi dari sini sebelum matahari terbenam besok."
Ini adalah titik di mana tembok pertahanan kami benar-benar diuji sampai ke titik nadir. Paman Johan menggunakan Adit sebagai alat tawar. Dia ingin membeli kembali integritas kami dengan harga sebuah gubuk di pinggir irigasi.
Aku melihat Ayah. Rahangnya mengeras. Tangannya yang memegang cangkul tampak memutih karena tekanan yang kuat. Ini adalah ujian terbesar bagi "Batu Gunung" yang baru saja belajar menjadi rapuh semalam. Apakah beliau akan kembali menjadi batu yang keras demi melawan, atau akan hancur menjadi debu karena keputusasaan?
"Johan..." suara Ayah rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. "Kamu bisa ambil tanah ini. Kamu bisa ratakan gubuk ini. Tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli anak-anakku."