Pagi itu, suasana terasa sangat sesak. Debu dari proyek-proyek perumahan di kejauhan terbang tertiup angin, hinggap di permukaan air irigasi yang tenang.
Di depan gubuk kami, suasana lebih menyerupai medan perang yang sedang menunggu aba-aba serangan. Ayah berdiri diam dengan tangan yang masih menggenggam cangkul, sementara Adit dan Rara berjaga di sisi jalan setapak, menatap ujung jalan besar tempat kemungkinan buldozer Paman Johan akan muncul.
Selama ini, aku hanya tahu cara memegang pensil. Aku adalah Hilman, si pengamat yang bersembunyi di balik buku sketsa. Jika Adit adalah ego, Rara adalah suara, Ayah adalah pondasi, dan Ibu adalah dinding, maka aku hanyalah lumut yang menempel: diam, tak terlihat, dan dianggap tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan.
Namun, di tengah ketegangan yang membuat udara terasa setajam silet ini, aku menyadari satu hal: batu yang paling keras sekalipun bisa hancur bukan hanya oleh palu besar, tapi oleh getaran yang tepat dari sebuah nada yang jujur.
"Hilman, masuk ke dalam. Jangan di luar," perintah Ibu dengan nada cemas. Beliau sedang mengemasi piring-piring plastik ke dalam kardus, gerakan tangannya cepat dan gugup.
"Kenapa, Bu? Karena Hilman cuma bisa menggambar?" tanyaku pelan, suaraku nyaris tak terdengar di antara deru mesin truk yang lewat di kejauhan.
Ibu berhenti. Beliau menatapku dengan mata yang lelah. "Ibu nggak mau kamu lihat gubuk ini diratakan. Biar kami saja yang hadapi Johan."
Aku tidak masuk ke dalam. Aku justru duduk di atas kursi kayu butut di depan pintu. Aku membuka buku sketsaku, tapi kali ini bukan untuk menggambar bayangan atau pemandangan. Aku mengambil ponsel lama milik Rara yang memiliki koneksi internet terbatas.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?" Rara mendekat, keningnya berkerut melihatku begitu sibuk dengan layar ponsel.
"Aku sedang mengirimkan 'getaran', Ra," jawabku singkat.
Selama semalam, aku tidak tidur. Aku memindai semua gambar yang kubuat sejak kami pindah dari Rumah Batu. Gambar Ayah yang menangis di bawah atap seng, gambar Ibu yang menata barang di atas tanah, gambar Adit yang babak belur tapi menolak uang haram Paman Johan, dan gambar gubuk kami yang kecil namun bercahaya di tengah gelapnya sengketa lahan.
Aku mengunggahnya satu per satu ke platform digital tempat aku biasa membagikan karya. Aku tidak hanya membagikan gambar, aku membagikan cerita. Aku menuliskan setiap kata yang keluar dari lidah tajam Ibu, setiap filosofi air Paman Erlan, dan setiap kebohongan yang dibungkus marmer oleh Paman Johan. Aku menamakan proyek ini: "Rumah yang Bukan Batu".
"Hilman! Kamu gila?" Adit mendekat setelah melihat notifikasi di ponselnya. "Kalau Paman Johan lihat ini, dia bakal makin marah! Ini pencemaran nama baik perusahaan besar!"
"Bukan, Mas. Ini adalah kenyataan yang nggak punya tempat untuk bersembunyi," jawabku mantap. "Selama ini kita semua takut sama Paman Johan karena dia punya uang dan hukum. Tapi dia nggak punya 'cerita'. Dia cuma punya angka. Dan orang-orang lebih peduli pada cerita daripada angka."
Beberapa jam kemudian, suara gemuruh itu datang. Bukan buldozer, melainkan tiga unit mobil hitam yang melaju kencang, berhenti tepat di depan gubuk kami. Paman Johan turun dengan wajah yang lebih gelap dari kemarin. Di tangannya ada sebuah tablet yang menyala.
"HILMAN!" teriak Paman Johan. Suaranya menggelegar, membuat burung-burung di pohon randu beterbangan. "Apa-apaan ini?! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Beraninya kamu memposting fotoku dan menuduhku penindas di internet?!"