Sore itu, langit di atas irigasi berwarna jingga keunguan, seperti memar yang mulai sembuh. Kami sedang duduk di depan gubuk, menikmati angin sepoi-sepoi yang membawa aroma gabah kering. Kemenangan kecil atas Paman Johan kemarin meninggalkan rasa manis yang aneh di lidah, namun tetap ada kecemasan yang menggantung: apa yang akan terjadi selanjutnya?
Hingga dari ujung jalan setapak, tampak sesosok pria berjalan santai. Beliau memakai celana kain yang sudah pudar warnanya, kaos oblong putih yang menguning, dan topi caping yang menutupi wajahnya. Di bahunya, beliau memikul sebuah tongkat kayu dengan bungkusan kain di ujungnya, persis seperti pengembara di dongeng-dongeng lama.
"Paman Erlan!" teriak Rara, hampir melompat dari duduknya.
Langkah pria itu terhenti. Beliau mengangkat capingnya, menampakkan wajah yang penuh keriput namun matanya selalu tampak sedang menertawakan dunia. Paman Erlan tersenyum lebar.
"Wah, wah... sepertinya ada yang sedang bermain rumah-rumahan di sini," suara Paman Erlan serak dan tenang, seolah-olah beliau tidak pernah menghilang begitu lama.
Ayah berdiri, matanya berkaca-kaca. Beliau ingin memarahi adiknya yang menghilang saat badai melanda, tapi yang keluar justru pelukan erat. "Kamu dari mana saja, Erlan? Kami hampir gila di sini!"
Paman Erlan melepaskan pelukannya, lalu meletakkan bungkusannya di tanah. Beliau menatap gubuk kami, lalu menatap kami satu per satu. "Aku? Aku cuma jalan-jalan mengikuti aliran air. Ternyata airnya membawaku ke sini. Bagus, bagus... kalian akhirnya pindah ke tempat yang tanahnya bisa diajak bicara."
Ibu keluar dari gubuk, membawa segelas air putih. "Duduk, Erlan. Maafkan saya... dulu saya pernah mengusirmu."
Paman Erlan menerima air itu, meminumnya dalam sekali teguk, lalu duduk di atas sebuah batu besar di depan gubuk. Beliau menyulut rokok lintingnya, aromanya yang khas segera memenuhi udara.
"Kalian merasa hebat karena sudah berani melawan Johan?" tanya Paman Erlan tiba-tiba. Pertanyaannya yang mendadak itu membuat suasana yang tadinya haru berubah menjadi tegang.
Kami terdiam. Adit mengangguk pelan, "Hilman menyelamatkan kita, Paman."
Paman Erlan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat menyengat. "Menyelamatkan? Kalian itu lucu. Kalian merasa sudah menang karena gubuk ini tidak jadi digusur? Kalian merasa sudah jujur karena sudah tidak punya rumah batu?"
Paman Erlan berdiri dari batunya. Inilah yang selalu disebut sebagai pidato "bodoh" Paman Erlan. Sebuah ocehan yang terdengar ngawur namun sebenarnya adalah pedang yang mengiris ego kami yang baru saja pulih.
"Dengar ya, orang-orang pintar," Paman Erlan mulai berjalan mondar-mandir di depan kami, tangannya bergerak lincah. "Kalian itu masih jadi batu. Cuma bedanya, sekarang kalian adalah batu yang sedang bersembunyi di dalam lumpur. Kalian pindah ke sini bukan karena kalian ingin jujur, tapi karena kalian dipaksa jujur oleh keadaan! Itu bukan kejujuran namanya, itu namanya menyerah karena kalah!"
Ayah mengerutkan kening. "Maksudmu apa? Kami sudah berkorban segalanya!"