Langit di atas tanah irigasi pagi itu tampak seperti kanvas yang baru saja dicuci bersih. Tidak ada lagi mendung kelabu yang menggantung, hanya gumpalan awan putih yang berarak pelan mengikuti irama angin.
Di depan gubuk kayu kami, suasana terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika dulu setiap pagi disambut dengan dentang kunci inggris yang keras atau teriakan Ibu yang menuntut kesempurnaan, kini yang terdengar hanyalah suara gemericik air irigasi dan gesekan sapu lidi di atas tanah.
Paman Erlan benar. Pindah rumah itu perkara memindahkan raga, tapi memindahkan hati butuh keberanian untuk memunguti puing-puing perasaan yang sudah lama kita abaikan. Selama puluhan tahun, kami hidup di bawah satu atap yang sama, namun perasaan kami terserak di sudut-sudut yang berbeda, terhalang oleh tembok-tembok ego yang kami sebut sebagai "harga diri".
Pagi itu, aku melihat Ibu sedang duduk di ambang pintu, mencoba menjahit kembali baju Adit yang robek saat memindahkan barang kemarin. Adit duduk di dekatnya, sedang meruncingkan pasak kayu untuk memperkuat pagar kebun kecil kami. Tidak ada percakapan yang meledak-ledak, namun ada keheningan yang bernapas, keheningan yang tidak lagi menyesakkan.
"Adit..." Ibu memulai pembicaraan, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara angin. Tangannya berhenti sejenak dari aktivitas menjahit. "Maafkan Ibu ya. Dulu Ibu selalu menekanmu untuk jadi orang besar. Ibu pikir, kalau kamu punya jabatan tinggi, Ibu sudah berhasil jadi orang tua. Ibu lupa bertanya, apa kamu bahagia dengan semua beban itu."
Adit terhenti. Dia menatap kayu di tangannya, lalu menoleh pada Ibu. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Selama ini, Adit selalu merasa harus menjadi "Si Paling Benar" karena dia takut mengecewakan ambisi Ibu. Dia menjadi sombong karena itu adalah satu-satunya topeng yang bisa melindungi kerapuhannya.
"Adit yang salah, Bu," jawab Adit lirih. "Adit terlalu menikmati pujian orang sampai Adit nggak sadar kalau Adit sedang menyeret kalian ke dalam lubang. Adit pikir dengan pamer kemewahan, Adit sudah membahagiakan Ibu. Ternyata Adit cuma sedang membangun menara dari pasir."
Aku yang sedang duduk di kursi kayu sambil membuka buku sketsa, merasa tenggorokanku menyempit. Inilah momen yang tidak pernah terjadi di Rumah Batu. Di sana, kata "maaf" adalah barang langka yang lebih mahal dari marmer lantai dua. Di sana, mengakui kegagalan adalah aib yang harus ditutupi dengan teriakan. Tapi di sini, di atas tanah yang jujur ini, pengakuan itu mengalir begitu saja, sealami air yang meresap ke dalam bumi.
Ibu mengulurkan tangannya, mengelap air mata yang jatuh di pipi Adit. "Kita mulai lagi dari puing-puing ini ya, Nak. Biarpun cuma gubuk, tapi di sini Ibu nggak perlu lagi pasang muka tembok di depan orang-orang."
Rara muncul dari balik gubuk, membawa segenggam bunga liar yang dipetiknya dari pinggir irigasi. Dia menyelipkannya di atas telinga Ibu, membuat Ibu tersenyum kecil. Rara kemudian duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Mas Hilman, menurut Mas, Paman Erlan sekarang ada di mana?" tanya Rara pelan.
"Mungkin dia sedang jadi saksi di tempat lain, Ra. Menunggu orang-orang batu lainnya untuk pecah," jawabku sambil mulai menggoreskan pensil di atas kertas.
Aku tidak lagi menggambar bangunan. Aku menggambar tangan Ibu yang sedang memegang tangan Adit. Aku menggambar kerutan di dahi mereka yang kini tampak seperti garis-garis peta menuju perdamaian. Aku menyadari bahwa selama ini, perasaanku terhadap keluarga ini pun sempat hancur. Aku sering merasa tidak dianggap, sering merasa hanya sebagai bayang-bayang di balik kecemerlangan semu Adit atau pemberontakan Rara. Namun hari ini, aku merasa utuh. Aku merasa bahwa keberadaanku sebagai pelukis cerita adalah pengikat bagi puing-puing ini.
Ayah datang dari arah ladang, membawa beberapa butir kelapa muda. Beliau tampak sangat lelah, namun binar matanya tidak bisa berbohong. Ada kepuasan yang tidak pernah beliau dapatkan saat membetulkan mesin-mesin canggih di bengkel dulu.
"Ayo, kita minum air kelapa dulu. Biar hati makin dingin," ajak Ayah.