Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #33

Darah Lebih Kental daripada Gengsi

Kehidupan di tanah irigasi mengajarkan kami bahwa alam tidak memiliki belas kasihan pada mereka yang hanya bermodalkan niat baik. Tanah yang jujur juga berarti tanah yang keras. Setelah beberapa minggu kami mulai terbiasa dengan ritme mencangkul dan menanam, sebuah ujian baru datang tanpa mengetuk pintu. Bukan dalam bentuk buldozer Paman Johan, melainkan dalam bentuk kelemahan raga yang paling purba: rasa sakit.

​Malam itu, hujan turun dengan intensitas yang mengerikan. Tanah ini seolah sedang ditenggelamkan oleh langit yang marah. Gubuk kami yang terbuat dari kayu-kayu bekas bergetar hebat ditiup angin kencang. Di tengah hiruk-pikuk suara hujan yang menghantam atap seng, sebuah suara rintihan memecah fokus kami.

​Ayah, yang biasanya paling awal bangun dan paling kuat bertahan, tiba-tiba jatuh tersungkur di samping tungku kayu. Wajahnya yang legam berubah menjadi pucat pasi, sedingin marmer yang dulu kami puji. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.

​"Kang! Akang kenapa?!" teriak Ibu, suaranya melengking menembus badai.

​Adit segera melompat, menyangga tubuh Ayah yang terasa sangat berat. Kami semua berkumpul di sekitar Ayah. Napasnya pendek-pendek, tangannya mencengkeram dadanya dengan kuat. Mata Ayah terbelalak, menatap langit-langit gubuk seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menakutkan.

​"Dada... sakit... sesak..." bisik Ayah, suaranya hampir hilang.

​Kepanikan segera menyerang gubuk itu seperti air bah. Rara mulai menangis, Adit gemetar hebat, dan Ibu mulai mencari-cari minyak kayu putih dengan gerakan yang serampangan. Di saat itulah, aku menyadari betapa rapuhnya kami.

Di Rumah Batu dulu, jika hal ini terjadi, Adit hanya perlu menekan satu tombol di ponselnya untuk memanggil ambulans rumah sakit swasta terbaik. Tapi di sini? Di pinggiran irigasi yang jalannya becek dan berlumpur, di tengah badai yang memutuskan akses listrik, kami hanyalah lima nyawa yang terisolasi.

​"Kita harus bawa Ayah ke rumah sakit!" seru Adit.

​"Pakai apa, Mas? Jalanan ke depan sana sudah banjir!" Rara menunjuk ke arah jalan setapak yang kini sudah berubah menjadi aliran air cokelat.

​Ibu menatap tas kecilnya, tempat beliau menyimpan sisa uang terakhir kami. Aku tahu apa yang beliau pikirkan. Uang itu seharusnya untuk modal benih dan biaya hidup bulan depan. Jika dibawa ke rumah sakit, uang itu akan ludes dalam hitungan jam.

​"Uang bisa dicari, Lis... nyawa suamimu nggak ada gantinya," bisik Ibu pada dirinya sendiri. Beliau menoleh pada Adit. "Adit, cari cara. Bawa Ayah keluar dari sini. Sekarang!"

​Inilah momen di mana "darah" benar-benar diuji. Adit, yang dulu sangat mementingkan penampilan, tanpa ragu melepaskan jaketnya untuk menutupi tubuh Ayah. Dia menggendong Ayah di punggungnya. Tubuh Ayah yang besar membuat Adit terhuyung, namun dia tidak menyerah.

​"Hilman, bawa senter! Rara, bantu Ibu pegang payung buat Ayah!" perintah Adit.

​Kami keluar menembus hujan. Lumpur setinggi betis menghambat langkah kami. Angin kencang hampir membuat payung yang dipegang Rara terbang. Adit terus melangkah, napasnya memburu, kakinya berkali-kali terpelesat, namun dia mengunci pegangannya pada paha Ayah. Darah Adit sedang bekerja keras menyelamatkan sumber darahnya yang lain.

​"Bertahan, Yah... bertahan," gumam Adit terus-menerus.

​Kami sampai di jalan besar setelah tiga puluh menit perjuangan yang terasa seperti selamanya. Tidak ada mobil yang lewat. Hanya ada kegelapan dan suara air. Hingga sebuah mobil bak terbuka yang membawa muatan sayur melambat.

​"Tolong, Pak! Ayah saya sakit!" teriakku, melambai-lambaikan senter ke arah sopir.

​Sopir itu, seorang pria setengah baya dengan wajah yang keras, melihat kondisi kami. Tanpa banyak tanya, dia membantu Adit menaikkan Ayah ke bak belakang, di antara tumpukan sawi dan kol yang basah. Kami semua naik ke belakang, memeluk Ayah di tengah guyuran hujan, mencoba memberikan kehangatan dari tubuh kami masing-masing.

Lihat selengkapnya