Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #34

Penyesalan yang terlambat

​Bau karbol dan suara kipas angin yang berderit di langit-langit bangsal puskesmas menjadi latar belakang kesunyian kami siang itu.

Ayah sudah melewati masa kritisnya. Wajahnya tidak lagi sepucat kemarin, namun ada sisa-sisa kelelahan yang dalam di garis-garis wajahnya. Beliau terbaring dengan selang infus yang menancap di tangan kirinya, tangan yang biasanya memegang palu besar, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya.

​Ibu sedang keluar mencari makan siang bersama Rara, menyisakan aku dan Adit yang berjaga di samping tempat tidur. Kami berdua terdiam, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Di hadapan Ayah yang sedang sakit, semua ambisi dan keluhan kami tentang hidup terasa begitu kerdil.

​"Dit... Man..." suara Ayah serak, memanggil kami dengan nada yang sangat lirih.

​Kami berdua mendekat. Adit memegang tangan Ayah yang tidak diinfus. "Iya, Yah? Ada yang sakit?"

​Ayah menggeleng pelan. Beliau menatap langit-langit ruangan dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukan badan Ayah yang sakit. Hati Ayah yang sesak melihat kalian sekarang. Kalian harus tidur di lantai, baju kalian kotor, Adit harus menggendong Ayah di tengah lumpur... Seharusnya bukan ini yang Ayah wariskan buat kalian."

​"Yah, jangan ngomong gitu lagi," potong Adit cepat. "Adit ikhlas melakukannya. Itu bukan beban."

​Ayah tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rasa pahit. "Kalian tahu, selama puluhan tahun Ayah membangun Rumah Batu itu, Ayah punya satu rahasia yang nggak pernah Ayah ceritakan bahkan pada Ibu kalian. Rahasia yang akhirnya bikin kita semua jatuh seperti sekarang."

​Aku membuka buku sketsaku, namun jemariku tidak bergerak. Aku ingin mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Ayah. Inilah "penyesalan yang terlambat" itu, yang selama ini menghantui setiap langkah Ayah di bengkelnya.

​"Sebenarnya, bengkel itu sudah mulai goyah sejak sepuluh tahun yang lalu," Ayah memulai ceritanya dengan suara yang bergetar. "Teknologi mesin mulai berubah, pelanggan lama mulai pergi ke diler-diler resmi yang lebih canggih. Ayah tahu itu. Ayah sadar kalau bengkel kita nggak akan bertahan lama kalau Ayah nggak berinovasi. Tapi apa yang Ayah lakukan?"

​Ayah mengambil napas panjang, seolah sedang memompa keberanian untuk mengakui kesalahannya sendiri.

​"Ayah justru pakai sisa uang tabungan kita bukan buat beli alat baru di bengkel, tapi buat meninggikan pagar dan mempercantik Rumah Batu warisan Kakek. Ayah pakai uang itu buat ganti lantai marmer yang sebenarnya masih bagus. Kenapa? Karena Ayah takut. Ayah takut kalau orang-orang tahu bengkel Ayah mulai sepi, mereka akan memandang rendah keluarga yang tinggal di rumah sebesar itu. Ayah malu mengakui kalau kemampuan Ayah nggak sebanding dengan kemewahan rumah yang ditinggalkan Kakek. Ayah lebih mementingkan 'bungkus' daripada 'isi'. Ayah lebih takut pada omongan tetangga daripada masa depan kalian."

​Adit tertegun. Aku pun sama. Selama ini kami mengira kehancuran ekonomi kami adalah murni karena penipuan Paman Johan atau krisis ekonomi lokal. Ternyata, fondasi kehancuran itu sudah diletakkan oleh Ayah sendiri demi sebuah prestise kosong.

​"Ayah melihat Adit tumbuh menjadi sombong, dan Ayah nggak berani negur. Kenapa? Karena Ayah merasa bersalah. Ayah pikir, kalau Ayah kasih Adit kemewahan, Adit nggak akan ngerasa kalau ayahnya ini sebenarnya sedang gagal. Ayah membiarkan Adit jadi 'Si Paling Benar' supaya Ayah punya alasan untuk tetap merasa jadi kepala keluarga yang sukses. Ayah sudah membohongi kalian semua selama sepuluh tahun."

​Air mata mulai jatuh dari sudut mata Ayah, mengalir melewati pelipisnya dan membasahi bantal puskesmas yang tipis. Penyesalan itu keluar seperti nanah dari luka yang sudah terlalu lama dipendam.

Lihat selengkapnya