Suasana pagi itu seolah sedang menahan napas. Udara di pinggiran irigasi terasa kaku, namun di dalam gubuk kami, ada keberanian yang baru saja selesai ditempa.
Ayah sudah kembali dari puskesmas dua hari yang lalu. Meski langkahnya belum sekuat dulu, binar matanya menunjukkan bahwa beliau bukan lagi pria yang bisa dihancurkan oleh rasa malu. Beliau telah menghancurkan karang di dalam dadanya sendiri, dan kini, saatnya kami menghancurkan karang yang selama ini menghalangi jalan kami sebagai keluarga.
Sebuah surat panggilan dari firma hukum Paman Johan datang pagi tadi. Isinya singkat dan dingin: "Pengosongan Lahan Tahap Akhir". Paman Johan tidak main-main. Dia ingin meratakan gubuk ini sebelum matahari terbenam. Namun, dia tidak tahu bahwa Hilman yang sekarang bukan lagi si pendiam yang hanya tahu cara menggambar kesedihan.
"Kita tidak akan lari lagi, kan, Yah?" tanya Rara sambil mengenakan sepatu gunungnya yang sudah kusam.
Ayah menggeleng tegas. Beliau mengenakan kemeja batiknya yang paling rapi, meski warnanya sudah sedikit pudar. "Kita akan menemuinya di sana. Bukan di gubuk ini, tapi di Rumah Batu."
Keputusan Ayah mengejutkan kami. Kembali ke Rumah Batu? Ke tempat yang menjadi sumber segala luka dan kesombongan kami? Namun aku segera mengerti. Untuk menghancurkan karang masa lalu, kita harus kembali ke tempat di mana karang itu pertama kali tumbuh.
Kami berangkat dengan satu unit angkot yang kami sewa seharian dengan sisa uang tabungan dan bantuan warga. Di dalam angkot yang berbau mesin dan panas itu, kami duduk merapat. Ibu menggenggam tangan Ayah, Adit memandangi jalanan dengan tatapan tajam, dan aku mendekap tas berisi bukti-bukti yang diperlukan.
Sesampainya di depan gerbang Rumah Batu, pemandangan itu menyayat hati. Papan bertuliskan "Dijual" yang dulu dipasang Paman Johan sudah hilang, digantikan oleh logo perusahaan pengembang miliknya. Rumah itu tampak angkuh namun kosong. Tanaman hias yang dulu dirawat Ibu dengan penuh ambisi kini mulai layu, tak terurus.
Paman Johan sudah berdiri di sana, di depan teras marmer yang dulu kami puja. Dia ditemani oleh dua orang pengacara dan beberapa mandor proyek yang membawa peta lokasi. Saat melihat kami turun dari angkot, Paman Johan tertawa meremehkan.
"Datang untuk menyerahkan kunci gubuk, Kang Yanto? Atau mau melamar jadi kuli bangunan di proyek baruku?" ejek Paman Johan, suaranya menggema di halaman yang luas itu.
Ayah melangkah maju. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam langkahnya. Beliau berhenti tepat di depan Paman Johan, menatap adik iparnya itu dengan tatapan yang tenang, tatapan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak punya beban rahasia lagi.
"Aku datang untuk menghancurkan karang ini, Johan. Bukan karang bangunan ini, tapi karang kebencian yang kamu bangun di antara kita," ujar Ayah mantap.
"Jangan bicara filosofi sampah denganku! Hukum tetap hukum. Sertifikat tanah irigasi itu sudah atas nama perusahaanku. Kalian tidak punya hak seujung kuku pun di sana!" Paman Johan membentak, wajahnya memerah.
Di sinilah giliranku. Aku maju ke samping Ayah, mengeluarkan map yang selama ini menjadi "senjata" rahasiaku.
"Paman benar, hukum tetap hukum," kataku, membuat Paman Johan menoleh padaku dengan tatapan benci. "Tapi hukum juga mengenal istilah 'cacat administrasi'. Paman lupa, kan? Saat Kakek masih hidup, Kakek pernah menghibahkan tanah irigasi itu bukan atas nama Ayah, bukan pula atas nama orang lain, tapi atas nama sebuah yayasan keluarga yang pengurusnya adalah... Paman Erlan."
Paman Johan tertegun. Wajahnya yang tadi merah mendadak berubah menjadi abu-abu. "Apa maksudmu? Erlan itu gila! Dia nggak punya apa-apa!"