Suasana pagi itu tidak lagi terasa seperti tungku api yang memanggang harapan kami. Sinar matahari yang menembus celah-celah dinding kayu gubuk kami tampak seperti helai-helai benang emas yang ditenun oleh alam.
Aku terbangun lebih awal, bukan karena cemas atau takut akan penggusuran, melainkan karena suara napas keluarga yang kini terdengar begitu damai. Tidak ada lagi desis amarah atau isak tangis yang tertahan di balik bantal.
Aku melangkah keluar gubuk tanpa alas kaki. Dinginnya embun di atas tanah irigasi terasa seperti kompres alami bagi jiwaku yang lelah. Di depan sana, air irigasi mengalir dengan tenang, memantulkan cahaya perak yang jernih.
Aku menyadari satu hal: retakan yang terjadi pada keluarga kami selama setahun terakhir ini ternyata bukan jalan menuju kehancuran. Retakan itu adalah satu-satunya cara agar cahaya bisa masuk ke dalam hati kami yang selama ini tertutup tembok beton Rumah Batu.
Di kejauhan, aku melihat Ayah. Beliau sedang duduk di atas batu besar di pinggir ladang, memandang ke arah matahari terbit. Di tangannya tidak ada lagi cangkul atau kunci inggris, hanya secangkir kopi hitam yang uapnya menari-nari ditiup angin. Ayah tampak sangat tenang. Kerutan di dahinya yang dulu tampak seperti parit kecemasan, kini terlihat seperti garis-garis kebijaksanaan.
"Yah, kok sudah bangun?" tanyaku, duduk di samping beliau.
Ayah menoleh, tersenyum jernih. "Ayah cuma mau melihat cahaya, Hilman. Dulu di Rumah Batu, Ayah bangun pagi langsung mikir cicilan, mikir gengsi, mikir gimana caranya supaya pagar rumah kita terlihat paling tinggi di kompleks. Ayah nggak pernah benar-benar melihat matahari."
Beliau menghela napas panjang, lalu menyeruput kopinya. "Ternyata, cahaya itu lebih hangat kalau kita menerimanya di atas tanah, bukan di atas marmer."
Aku mengambil buku sketsaku, buku yang kini sudah hampir penuh dengan rekaman perjalanan duka dan bangkitnya kami. Aku mulai menggambar profil wajah Ayah dari samping, dengan latar belakang matahari yang sedang merekah. Aku tidak lagi berusaha membuat gambar yang "bagus" agar bisa dipuji orang. Aku hanya ingin menangkap cahaya itu.
"Apa kamu menyesal kita nggak kembali ke rumah sana, Hilman?" tanya Ayah tiba-tiba.
Aku menggeleng tanpa ragu. "Rumah itu sudah mati sejak kita berhenti bicara jujur di dalamnya, Yah. Di sini, meski gubuknya sempit, suaranya sampai ke hati."
Satu per satu, anggota keluarga lainnya mulai bangun. Ibu keluar dengan rambut yang digelung sederhana, mengenakan daster yang harganya mungkin tidak seberapa, namun wajahnya tampak sepuluh tahun lebih muda. Beliau mulai menyiapkan sarapan, bukan dengan menu mewah yang penuh kepalsuan, tapi dengan nasi jagung dan ikan asin yang aromanya sangat membangkitkan selera.
Adit keluar dengan kaos oblong, langsung menyambar ember untuk mengambil air. Tidak ada lagi keluhan soal tangannya yang menjadi kasar atau kulitnya yang menghitam. Dia sekarang adalah "Si Paling Kerja" dalam arti yang sesungguhnya, bekerja untuk menghidupi, bukan untuk pamer.
"Adit, pelan-pelan. Airnya nggak lari," goda Ibu sambil tertawa.