Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #37

Semen Baru untuk Hati yang Retak

​Pagi itu, udara tidak lagi terasa seperti ancaman. Jika dulu suara mesin kompresor di bengkel Ayah terdengar seperti dentang lonceng yang menuntut produktivitas tanpa henti, kini suara pacul yang menghantam tanah irigasi terdengar seperti detak jantung yang sehat. Kami sedang berdiri di atas puing-puing masa lalu kami, namun kali ini kami tidak datang untuk meratapi kehancuran. Kami datang untuk membangun kembali.

​"Adit, campurannya jangan terlalu banyak air. Tanah ini butuh pegangan yang kuat, tapi dia juga harus bisa bernapas," ujar Ayah sambil memperhatikan Adit yang sedang membuat bedengan untuk tanaman sayur di samping gubuk.

​Ayah belum bisa bekerja berat, namun pikirannya kini jauh lebih tajam. Beliau duduk di kursi kayu kecil, bertindak sebagai "arsitek" bagi kehidupan baru kami. Namun, arsitektur yang beliau rancang kali ini bukan tentang luas bangunan atau kemewahan fasad, melainkan tentang ketahanan jiwa.

​Selama bertahun-tahun di Rumah Batu, kami menggunakan "semen" berupa uang, gengsi, dan pengakuan orang lain untuk menyatukan keluarga. Kami pikir, selama tembok rumah kami tinggi dan mobil mengkilap, maka retakan di dalam hati kami tidak akan terlihat. Namun kami salah. Semen itu ternyata rapuh. Begitu badai ekonomi datang, semen itu pecah berkeping-keping, meninggalkan kami sebagai orang asing yang tinggal di bawah satu atap.

​Kini, kami sedang meracik "semen baru".

​"Semen baru ini komposisinya beda, Hilman," bisik Adit padaku saat kami sedang mengangkut pupuk kandang dari kandang kambing milik tetangga. "Dulu Mas pikir kalau Mas kasih Ibu uang belanja banyak, itu sudah cukup jadi perekat. Ternyata, melihat Ibu tersenyum pas kita makan singkong bareng begini, rasanya jauh lebih rekat."

​Aku tersenyum melihat perubahan kakakku. Adit yang dulu tidak mau tangannya kotor, kini justru bangga dengan noda tanah di kausnya. Dia telah menemukan "semen" berupa tanggung jawab yang tulus. Bukan lagi tanggung jawab untuk terlihat sukses, tapi tanggung jawab untuk melindungi.

​Di teras gubuk, Ibu sedang sibuk dengan anyaman bambu. Beliau belajar dari istri Pak RT cara membuat besek dan kerajinan tangan lainnya. Ini adalah pemandangan yang mustahil terjadi setahun lalu. Nyi Lilis yang terhormat, yang tangannya hanya kenal dengan tas mahal dan perhiasan emas, kini dengan telaten menjalin helai demi helai bambu.

​"Setiap anyaman ini harus masuk tepat pada tempatnya, Rara," kata Ibu pada Rara yang sedang membantunya. "Kalau ada satu yang renggang, seluruh besek ini nggak akan kuat menahan beban. Kayak keluarga kita dulu, terlalu banyak celah yang kita tutup-tutupi dengan bedak."

​Ibu sedang mempraktikkan "semen" berupa kerendahan hati. Beliau tidak lagi merasa terhina karena harus bekerja dengan tangan sendiri. Justru, setiap jalinan bambu itu seolah-olah menjadi simbol bagaimana beliau menjalin kembali hubungan dengan anaknya yang dulu sering beliau abaikan demi arisan mewah.

​Aku sendiri menemukan "semen" dalam setiap goresan pensilku. Aku tidak lagi menggambar untuk melarikan diri dari kenyataan. Aku menggambar untuk mengabadikan proses pembangunan ini. Aku menggambar retakan-retakan di dinding gubuk kami yang kini mulai ditumbuhi tanaman merambat yang hijau. Aku menyadari bahwa retakan itu tidak perlu ditutup dengan semen beton yang kaku. Biarkan dia ada, namun isi dengan sesuatu yang hidup.

​Tiba-tiba, Paman Erlan datang membawa satu sak semen asli, bukan metafora, tapi semen bangunan yang masih baru.

​"Ini buat apa, Erlan?" tanya Ayah heran.

Lihat selengkapnya