Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #38

Menanam Harapan di Tanah Berbatu

Fajar baru saja memecah kegelapan saat kami sudah berdiri di lahan belakang gubuk. Tanah itu tampak menantang, luasnya tak seberapa, namun permukaannya tertutup oleh lapisan kerikil dan batuan padas yang keras. Selama puluhan tahun, lahan ini diabaikan karena dianggap tidak subur. Bagi orang-orang kota, ini hanyalah tanah sisa.

Namun bagi kami, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuktikan bahwa hidup kami belum habis.

Ayah memegang cangkulnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Beliau menatap tanah itu seolah sedang menatap musuh besar yang harus ditaklukkan. "Tanah ini keras, Hilman. Dia menolak untuk digali. Tapi kalau kita menyerah sekarang, kita akan selamanya menjadi batu yang hanya diam di pinggir jalan."

Hari itu, upacara menanam harapan dimulai.

Adit memimpin di depan dengan linggis besar. Tugasnya adalah membongkar bongkahan batu padas yang tersembunyi di balik permukaan tanah. Aku bertugas mengumpulkan batu-batu itu ke dalam gerobak kayu tua, sementara Rara dan Ibu bertugas menyiangi rumput liar dan menebar pupuk kandang.

Kami bekerja dalam irama yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Tidak ada perintah yang keluar dengan teriakan marah, hanya bisikan kerja sama yang mengalir pelan.

"Mas, lihat batu ini!" teriakku sambil mengangkat sebuah batu sebesar kepala manusia. "Ini persis seperti tembok Rumah Batu kita. Keras dan sulit digeser."

Adit tertawa, keringat mengucur deras dari dahinya yang kini kecokelatan terpanggang matahari. "Buang saja ke pinggir irigasi, Man! Biar dia jadi penahan tanggul. Di sini, kita nggak butuh batu sebesar itu. Kita butuh tanah yang gembur buat bibit-bibit ini."

Selama berjam-jam, kami bergulat dengan tanah berbatu itu. Setiap kali cangkul Ayah membentur batu, suaranya berdenting nyaring, mengirimkan getaran hingga ke pangkal lengan. Namun, tidak ada satu pun dari kami yang mengeluh. Rasa sakit di otot punggung kami terasa jauh lebih terhormat daripada rasa sakit di hati saat kami harus berpura-pura kaya di hadapan tetangga lama kami dulu.

Ibu, dengan tangan yang kini mulai kapalan, dengan telaten memasukkan benih-benih sayuran: cabai, terong, dan tomat ke dalam lubang-lubang kecil yang sudah kami siapkan. Beliau membungkuk, menyentuh tanah dengan lembut, seolah sedang menidurkan bayi.

"Dulu Ibu pikir menanam itu gampang, tinggal suruh tukang kebun," renung Ibu sambil menepuk-nepuk tanah di sekitar benih cabai. "Ternyata, menanam itu soal memindahkan kasih sayang kita ke dalam bumi. Kalau hati kita masih berbatu, benih ini nggak akan pernah mau tumbuh."

Paman Erlan memperhatikan kami dari kejauhan, duduk di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjalar hingga ke tepian irigasi. Beliau tidak menawarkan bantuan fisik, karena beliau tahu tanah ini adalah milik kami sepenuhnya. Beliau hanya meniup seruling bambunya, mengirimkan nada-nada yang seolah-olah menyemangati tanah agar mau melunak.

"Tanah itu punya ingatan, Kak Yanto!" seru Paman Erlan saat kami sedang beristirahat di bawah naungan pohon. "Kalau Kak Yanto menanam dengan dendam, buahnya akan pahit. Tapi kalau Kak Yanto menanam dengan harapan, biarpun tanahnya berbatu, dia akan memberikan manisnya pada kalian."

Ayah menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Beliau menatap lahan yang kini mulai tampak rapi, meski masih ada gundukan batu di pinggirannya. "Saya nggak dendam lagi, Erlan. Saya cuma merasa malu pada tanah ini. Dia sudah di sini jutaan tahun, sementara saya baru sebentar sudah merasa memiliki segalanya."

Lihat selengkapnya