Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #39

Paman Erlan, Senja dan Batu Kali

Senja di tepian irigasi sore itu berwarna jingga kemerahan, seperti tembaga yang baru saja dikeluarkan dari tungku pembakaran. Langit seolah ingin memamerkan bahwa keindahan yang paling agung sekalipun tidak butuh bingkai emas, ia hanya butuh mata yang mau memandang dengan tenang.

Di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga menyentuh air, Paman Erlan duduk bersila. Di hadapannya, beberapa butir batu kali tersusun rapi, tampak sederhana namun memiliki wibawa yang aneh.

Kami semua (Ayah, Ibu, Adit, Rara, dan aku) datang menghampirinya setelah menyelesaikan pekerjaan di ladang. Tubuh kami masih beraroma tanah, keringat kami masih menempel di pori-pori, namun hati kami terasa ringan. Kami duduk melingkar di sekeliling Paman Erlan, seolah-olah beliau adalah poros dari pusaran kehidupan kami yang baru.

"Kalian tahu kenapa batu kali itu bentuknya selalu bulat dan halus?" tanya Paman Erlan tanpa menoleh. Tangannya dengan telaten mengusap sebuah batu yang permukaannya licin.

"Karena sering bergesekan dengan air, kan, Erlan?" sahut Ayah sambil menyandarkan punggungnya di batang beringin.

Paman Erlan tersenyum tipis. "Bukan cuma bergesekan dengan air, Kak Yanto. Tapi karena dia berani membiarkan dirinya dihantam arus. Dia berani berpindah tempat dari hulu ke hilir. Dia tidak memaksa untuk diam menjadi dinding yang kaku. Dia mengikuti irama sungai."

Paman Erlan mengambil satu batu, lalu menyerahkannya pada Adit. "Batu ini dulunya mungkin bagian dari gunung yang angkuh. Keras, tajam, dan menyakitkan kalau disentuh. Tapi lihat sekarang. Setelah dia hancur dan jatuh ke sungai, setelah dia bertabrakan dengan batu lain jutaan kali, dia menjadi halus. Dia tidak lagi melukai, tapi justru menjadi pondasi yang paling kuat karena dia bisa menyesuaikan diri."

Adit menatap batu itu lama. Aku tahu dia sedang bercermin pada batu tersebut. Adit adalah si batu gunung yang tajam itu, yang dulu melukai siapa saja dengan egonya, namun kini sedang dalam proses menjadi batu kali yang tenang.

"Kalian selama ini terobsesi jadi batu gunung," lanjut Paman Erlan, suaranya mengalun seperti angin sore. "Kalian bangun Rumah Batu itu seolah-olah bangunan itu bisa melindungi kalian dari perubahan zaman. Padahal, semakin keras kalian mencoba bertahan, semakin mudah kalian retak saat badai besar datang. Batu gunung itu kokoh tapi rapuh. Sedangkan batu kali itu lentur karena dia tahu caranya mengalah pada arus."

Ibu menunduk, tangannya yang kapalan mempermainkan ujung daster. "Lalu sekarang, apa kami sudah jadi batu kali, Erlan?"

Paman Erlan tertawa pelan, tawa yang tidak mengejek namun penuh pengertian. "Kalian sedang dalam perjalanan menuju sana, Nyi Lilis. Kalian sudah melepaskan diri dari 'gunung' kemewahan itu. Kalian sudah jatuh ke sungai kenyataan. Sekarang, tugas kalian adalah membiarkan air menghaluskan bagian-bagian diri kalian yang masih tajam. Jangan melawan arus, tapi jangan juga hanyut tanpa arah."

Sore itu terasa sangat magis. Paman Erlan bukan sedang memberikan ceramah, beliau sedang membasuh sisa-sisa trauma kami dengan filosofinya. Beliau menjelaskan bahwa "Rumah Batu" yang sejati bukanlah bangunan yang alamatnya bisa dicari di peta, melainkan ketahanan jiwa yang alamatnya ada di dalam dada.

"Lihat matahari itu," Paman Erlan menunjuk ke ufuk barat. "Dia tenggelam setiap hari, tapi dia tidak pernah mengeluh karena kehilangan cahayanya. Dia tahu, besok dia akan bangun lagi dengan harapan yang sama. Manusia itu sering kali lebih takut pada 'malam' daripada pada 'kematian'. Padahal malam hanyalah cara Tuhan mengistirahatkan kita dari kesombongan siang."

Lihat selengkapnya