Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #40

Pulang ke Rumah Batu

Pagi ini, suasana tampak sangat berbeda. Seolah-olah seluruh semesta telah sepakat untuk memberikan warna yang paling tajam untuk menyambut hari terakhir dari babak panjang kehidupan kami. Kabut tipis menggantung di atas aliran irigasi, menciptakan nuansa sunyi yang suci. Kami semua berdiri di depan gubuk kayu kami, menatap ke arah jalan besar tempat sebuah mobil pengangkut material berhenti.

Hari ini adalah hari "pembangunan" terakhir. Namun, kami tidak sedang memesan marmer Italia atau pagar besi setinggi tiga meter. Kami memesan batu-batu kali yang besar untuk memperkuat pondasi bengkel Ayah dan tanggul di depan kebun kami.

"Sudah siap, Yah?" tanya Adit, sambil memegang pundak Ayah.

Ayah mengangguk. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi gurat ketakutan akan hari esok. "Kita akan membangun Rumah Batu yang baru, Dit. Tapi kali ini, batunya tidak kita jadikan dinding yang mengurung, tapi kita jadikan pijakan yang menopang."

Aku memperhatikan mereka bekerja. Adit, yang dulunya hanya tahu cara memerintah, kini memimpin para tetangga desa untuk menurunkan batu-batu itu. Mereka bekerja sambil tertawa, berbagi rokok, dan sesekali melempar candaan khas orang desa. Tidak ada sekat antara "si kaya yang sedang jatuh" dengan "si miskin yang selalu ada". Di atas tanah irigasi ini, derajat kami telah dilebur oleh keringat yang sama.

Aku mengambil buku sketsaku, mencari sudut yang tepat untuk mengabadikan momen ini. Aku melihat Ibu sedang duduk di bawah pohon mangga bersama para ibu-ibu desa, menganyam besek sambil bercerita tentang resep masakan. Ibu telah benar-benar "pulang". Beliau tidak lagi butuh pengakuan dari lingkaran sosialnya yang dulu. Beliau telah menemukan rumahnya di sela-sela anyaman bambu dan percakapan jujur dengan sesama wanita pekerja.

Inilah arti "Pulang" yang sesungguhnya. Pulang bukan berarti kembali ke alamat yang lama, melainkan kembali ke fitrah manusia sebagai makhluk yang saling membutuhkan.

"Hilman, kamu lihat batu itu?" Ayah mendekatiku, menunjuk sebuah batu besar yang diletakkan Adit sebagai tumpuan utama tiang bengkel.

"Iya, Yah. Kenapa?"

"Batu itu kuat karena dia sudah melewati jutaan tahun tekanan di dalam bumi. Dia tidak pura-pura kuat. Dia memang kuat karena prosesnya," Ayah mengusap permukaan batu yang kasar itu. "Dulu, Rumah Batu kita itu rapuh karena dia dibangun di atas pasir kesombongan. Begitu ombak masalah datang, pasirnya hanyut, dan batu-batunya runtuh menimpa kita sendiri."

Beliau menatapku dengan mata yang dalam. "Sekarang, kita sedang membangun Rumah Batu di dalam sini," Ayah menunjuk dadanya. "Sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari kejujuran, atapnya dari doa, dan pondasinya dari maaf. Rumah seperti itu, Hilman, tidak akan pernah bisa disita oleh siapa pun. Bahkan oleh maut sekalipun."

Kalimat Ayah bergema di kepalaku. Aku menyadari bahwa selama ini, aku sibuk mencari kesalahan pada dinding-dinding fisik rumah kami. Aku menyalahkan Paman Johan, menyalahkan takdir, bahkan menyalahkan Ayah. Padahal, masalahnya bukan pada bangunannya, tapi pada penghuninya yang lupa cara menjadi manusia.

Kini, di gubuk irigasi ini, kami telah menemukan "kekokohan sejati". Kekokohan itu tidak terletak pada ketebalan beton, melainkan pada kelenturan hati. Kami kuat bukan karena kami tidak bisa pecah, tapi karena kami tahu cara menyatu kembali setelah dihancurkan.

Sore harinya, saat bengkel sederhana itu selesai diberi pondasi batu kali, kami mengadakan syukuran kecil. Seluruh warga desa datang. Kami makan di atas hamparan daun pisang yang panjang. Di sana, di tengah aroma nasi liwet dan sambal dadak, aku melihat keajaiban itu.

Lihat selengkapnya