Tiga tahun telah berlalu sejak badai itu meruntuhkan dinding-dinding kesombongan kami. Kini, di pinggiran irigasi, sebuah bangunan kayu sederhana berdiri dengan gagah, bukan karena kemewahannya, tapi karena kejujuran yang meluap dari dalamnya. Di atas pintunya, sebuah papan kayu jati bertuliskan: "Bengkel Kejujuran Kang Yanto".
Aku berdiri di depan pondasi bengkel itu, menatap batu-batu kali yang dulu kami tanam dengan peluh dan air mata. Batu-batu itu kini tidak lagi tampak keras dan asing. Permukaannya telah tertutup oleh lumut hijau yang tebal dan lembut. Lumut yang tumbuh subur karena ia tidak lagi diganggu oleh gesekan ego, melainkan dirawat oleh ketenangan jiwa.
Adit tidak lagi mengenakan jas klimis, tangannya hitam oleh oli, namun senyumnya saat berhasil menghidupkan traktor petani jauh lebih tulus daripada tawa palsunya di ruang rapat dulu.
Ibu tidak lagi memuja emas, jemarinya kini lincah menjalin bambu menjadi anyaman yang menghidupi warga desa.