Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #42

Catatan Penulis

Cerita "Rumah Batu" lahir dari sebuah perenungan sederhana tentang apa yang sebenarnya kita bangun dalam hidup ini. Sering kali, kita terlalu sibuk menyusun beton dan marmer harga diri hingga lupa membangun pondasi di dalam hati. Kita membangun tembok yang begitu tinggi untuk melindungi diri, namun tanpa sadar tembok itu pula yang memenjarakan kita dalam kesepian.

​Melalui perjalanan keluarga Ki Yanto, saya ingin menyampaikan bahwa kehilangan materi bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, Tuhan perlu menghancurkan "rumah" yang kita banggakan agar kita bisa melihat langit kembali. Keruntuhan bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan untuk membangun sesuatu yang lebih jujur, lebih kokoh, dan lebih manusiawi.

​Terima kasih kepada para pembaca yang telah bersedia melangkah di jalanan becek irigasi bersama Hilman dan keluarganya. Semoga cerita ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa rumah yang paling megah adalah rumah yang pintunya selalu terbuka bagi maaf, dan jendelanya selalu jernih oleh kejujuran.

​Sebab pada akhirnya, kita semua hanyalah batu kali yang sedang mencari jalan untuk pulang ke muara kedamaian.

Salam hangat.

Lihat selengkapnya