Rumah Bertuah

Serenarara
Chapter #2

Sunyi yang Menjawab

Pagi itu mood Rinai sudah terasa seberat tumpukan formulir onboarding karyawan baru yang menunggunya. Dokumen yang harus selalu ia cetak dan salin berulang kali sebelum akhirnya disusun rapi setiap hari. Ia baru saja meletakkan tas selempangnya di kursi, yang sudah melayaninya tiga tahun dan kini tampak lusuh di antara tas-tas bermerek rekan kerjanya. Belum sempat ia menyalakan komputer, suara melengking Dina, salah satu dari tiga barbie toxic, sudah menyambut.

“Ya ampun, Rinai. Pagi-pagi gini, muka udah kusut aja. Semalam kurang tidur? Atau sibuk begadang susunin sertifikat training setinggi Gunung Salak?” sindir Dina sambil tertawa renyah. “Gitu sih deritanya jadi admin tukang fotokopi.”

Mendengar sindiran yang merendahkan tugasnya sebagai Admin Support Operasional, Rinai hanya bisa menggenggam pena di tangannya. Namun, belum sempat Rinai merepons, Mareta yang mengantar Rinai masuk ruangan langsung menyela dengan nada elegan.

“Dina… Dina,” potong Mareta. “Rinai bukan cuma tukang fotokopi. Dia yang pegang semua data background check karyawan. Dia nggak perlu insecure, justru orang-orang di sini yang perlu insecure dikit sama dia. Rinai udah lihat data kalian… siapa tahu salah ngomong malah ke-spill?”

Sasha dan Anya, yang tadinya siap menyambung sindiran Dina, langsung terdiam. Wajah Dina sedikit memucat. Mereka tahu, sebagai Admin Operasional, Rinai memang memegang semua berkas operasional yang sensitif.

“Santai Mar, cuma bercanda kok,” kata Dina, berusaha mencairkan suasana. “Oh iya, Rinai. Tolong list lagi kebutuhan katering rapat direksi hari Rabu. Jangan sampai ada yang salah request dietnya. Kalau salah, yang kena bukan cuma kamu, tapi semua divisi HR.”

Rinai mengangguk.

Gini amat jadi budak korporat, kalau tahu begini mending aku dagang es teh pinggir jalan, dumalnya dalam hati.

Sering menangani rapat, katering, dan logistik, membuat tugasnya paling sering dijadikan bahan lelucon. Padahal ia jadi punya catatan alergi para direksi dan jadi saksi betapa picky eater-nya para bos besar.

Perlindungan Mareta hanya datang sesekali karena perbedaan divisi, dan tidak pula menghilangkan luka. Sindiran-sindiran itu tetap merayap di bawah kulit Rinai.

Ia menarik napas dalam. Kepercayaan dirinya terkikis, energinya terkuras habis bahkan sebelum pukul sembilan pagi. Damai adalah kata yang selalu ia impikan, namun di kantor ini, ia hanya menemukan perang dingin.

“Aku cuma berharap aku bisa kabur ke tempat yang nggak ada mereka,” bisik Rinai pada Mareta saat mereka menuju mesin kopi.

“Ya makanya, buruan pindah ke rumah barumu. Rumah elite itu harusnya jadi tempat kamu healing, jangan dibawa stres,” jawab Mareta.

Pernyataan Mareta menyadarkan Rinai. Hari ini ia harus pindah. “Bantuin ya, Mar?” pintanya.

“Pasti lah!” Mareta mengelus lengan sahabatnya. “Jam empat sore kita beresin ya!”

 

-oOo-

 

Begitu jam kantor menunjukkan pukul empat sore, Rinai bergerak cepat. Ia pamit beralasan urusan mendadak, mengabaikan tatapan sinis Anya dan gerombolannya. Mareta sudah menunggu di lobi.

“Oke, misi pindahan kilat kita mulai!” seru Mareta dengan mobil pick up yang disewanya untuk membawa tiga tas besar, satu koper, dan dua kardus barang Rinai dari kos lamanya.

Proses pindahan selesai dalam waktu singkat. Begitu tiba di rumah yang kini telah bersih dan rapi jali, Rinai terperangah mengamati hasil kerja tim pembersih profesional.

Rumah itu kini terlihat seperti kanvas aesthetic yang siap diisi. Debu tebal telah hilang, lantai kayu mengilap, dan dinding-dinding kusam kini memancarkan aura vintage yang elegan. Ruangan terasa dingin, tetapi dinginnya kini lebih bersih, bukan lembab.

“Gokil! Ini kayak rumah di film-film yang punya banyak spot instagramable,” puji Mareta sambil mengeluarkan beberapa gulungan fairy light dari tasnya. “Untung perabotnya masih bisa dipakai semua,” katanya ketika menduduki sofa ruang tamu yang kini terpampang, tanpa kain penutup. Sofa beludru berwarna hijau tua, memberi kesan mewah dan misterius di ruangan.

“Tante bilang rumah ini pernah direnov enam tahun lalu. Mungkin saat itu perabotnya juga diperbarui ya,” ujar Rinai sambil membantu Mareta menguraikan kabel lampu.

“Kayaknya cuma diperbaiki. Rangka kayu jati begini pasti kuat, sayang dibuang. Lihat ini,” Mareta menunjuk meja makan kayu jati besar di dapur. “Ini meja makan impian. Perfect untuk dinner nanti.”

 

Mareta, si interior enthusiast, mulai mendekorasi. Rinai hanya bisa mengikuti, terpesona. Fairy light dipasang di atas headboard kasur kamar tidur lantai dua yang ditempati Rinai, serta satu rangkaian lagi direntangkan sepanjang teralis tangga. Mereka menata buku-buku lama Rinai di rak kayu yang sudah dipoles, dan memasang beberapa poster vintage dan foto Rinai di dinding kamar. Mereka pun menutupi bagian tembok yang sudah kusam dengan wallpaper atau panel kayu imitasi. Lampu-lampu lama diganti yang baru. Halaman pun mereka hiasi lampu tenaga surya berbentuk kembang api, menjadikannya seperti negeri dongeng.

Lihat selengkapnya