Keesokan paginya, Rinai datang ke kantor dengan beban yang sulit ia jelaskan. Ia tahu nasibnya sedang diputuskan oleh atasannya di perusahaan, dan ia hampir yakin hasilnya adalah pemecatan.
Sepanjang hari itu, udara di Divisi HR terasa dingin dan menekan. Rinai menjadi buah bibir. Setiap staf yang melewatinya akan berhenti sejenak, melirik, dan berbisik.
“Itu tukang fotokopi yang bikin masalah,” bisik Anya cukup keras saat Rinai berjalan ke mesin printer.
Dina, Sasha, dan Anya tidak perlu repot-repot menyindir. Cukup dengan senyum licik mereka, Rinai tahu ketiganya merasa menang. Mereka yakin, ini hanya masalah waktu sebelum Rinai diusir dari gedung ini. Rasa perih itu menempel di dadanya. Rinai merasa terisolasi. Ia hanya berusaha menutup mata dan telinga, fokus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Saat jam istirahat tiba, Rinai tidak perlu naik ke atap. Mareta sudah mendatanginya di kursi kerjanya, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Nai!” Mareta langsung memeluk sahabatnya, seolah ingin melindunginya dari tatapan orang-orang.
“Kenapa kemarin kamu nggak cerita?” tanyanya setelah melepaskan pelukan. “Aku baru tahu dari gosip. Ini parah, Nai! Pasti ulah Dina, ya?” tanya Mareta saat mereka sudah berada dalam lift menuju ke atap, suaranya tercekat.
Rinai balas memeluk sahabatnya kini. “Aku takut ganggu kesibukan kamu, Mar. Kamu kan lagi banyak urusin klien.”
Ia menarik diri, wajahnya sedikit cerah. “Tapi nggak apa-apa, kemarin aku udah dihibur sama Vin.”
“Vin siapa?” mata Mareta berbinar, senyumnya terbit.
“Aku belum cerita ya?” Rinai mengingat-ingat.
Pintu lift terbuka, saatnya mereka turun dan melanjutkan dengan tangga. “Vin itu teman baruku. Kenal di kafe dekat sini, waktu itu aku balikin dompetnya yang ketinggalan di meja kasir.”
“Cowok?” Mareta memastikan. Rinai mengangguk. Keduanya berbincang sambil membuka pintu menuju bagian luar atap. “Ganteng nggak?”
Rinai memutar bola matanya, lalu tersenyum dan mengangguk malu-malu.
“Iih, lucu banget. Kamu udah tukeran nomor?” perhatian Mareta jadi teralih.
“Baru kemarin,” jawab Rinai. “Kemarin juga dia baik banget, sabar dengar keluh-kesahku. Bahkan antar aku pulang.”
“Serius diantar pulang?” Mareta mengerling padanya.
“Jangan mikir macem-macem deh. Dia cuma penasaran sama rumah angkerku,” Rinai meluruskan.
“Kamu cerita apa aja?” Mareta tampak ingin tahu.
“Banyak. Soal masalah dengan Dina di kantor, soal kejadian horor di rumah juga,” ujar Rinai sambil memandang kejauhan dari teralis atap. Berada di bawah langit biru membuat dadanya yang sesak terasa lebih lapang.
“Dia antar kamu pakai apa? Motor? Mobil?” tanya Mareta.
“Mobil. Honda Civic, puas?” jawab Rinai. Kemudian wajahnya berubah cemas, “Kok jadi kesitu, sih? Nasibku gimana ini? Aku takut banget dipecat.”
“Ada Vin kan? Kalau kamu dipecat, langsung nikah aja sama dia. Selesai masalah!” saran Mareta.
“Heh, sembarangan kalo ngomong! Aku sama dia nggak ada apa-apa, baru juga kenal.”
“Iya, tapi jelas dia suka sama kamu. Udah punya mobil pula, kayaknya juga baik. Jangan sampe lolos, Bestie!” Mareta menggodanya.
“Sok tahu,” gumam Rinai, malu-malu.
“Udah tenang aja. Kalau sampai kamu dipecat, aku bantu cariin kerjaan baru,” Mareta berkata ringan.
“Benar ya!” Rinai merasa lebih tenang sekarang.
“Sekarang, fokus selesaikan hari ini. Kita tunggu kabar besok,” putus Mareta. Rinai memandang haru pada sahabatnya itu, satu-satunya benteng yang membuat Rinai bertahan di sini.
-oOo-
Siang itu di gedung yang sama, Eros kembali dengan data yang didapat.