Rumah Bertuah

Serenarara
Chapter #13

Rahasia yang Terlalu Dekat

Pagi itu rumah ramai, seperti biasa. Mami mengomel soal gula yang tinggal setengah. Mima berdebat kecil dengan papa tentang acara televisi yang mereka tonton. Jevian duduk di tangga, menyela dengan komentar iseng yang membuat suasana semakin hidup. Terlalu hidup untuk sebuah rumah yang penghuninya sudah tak bernyawa.

Rinai duduk di meja makan, mengaduk teh yang tak lagi panas. Ia tersenyum sesekali, tapi pikirannya tertinggal di satu titik. Ia mengamati mereka satu per satu. Cara mereka bergerak, bercanda, bertengkar kecil, dan tiba-tiba sebuah pertanyaan lama muncul lagi, mengetuk dari dalam.

Ia pernah bertanya di sela waktu luang. Saat suasana sedang santai, saat ia merasa cukup berani.

“Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian?”

Papa hanya mengangkat bahu, seolah itu hanya pertanyaan tentang cuaca.

“Siapa yang ngelakuin?”

Mima menggeleng, wajahnya bingung, jujur. “Nggak tahu.”

 

Saat Rinai menoleh pada Mami, perempuan itu terdiam. Tatapannya berpaling, lalu berhenti entah di mana. Matanya berkaca-kaca, tampaknya enggan mengingat. Tak ada jawaban, hanya luka yang masih terlalu getir untuk disentuh.

Rinai menelan ludah.

Kalau mereka tak ingat, atau memilih tak membuka diri, maka tidak mungkin jawabannya didapatkan langsung dari mereka.

Ia menatap dinding rumah itu. Untuk pertama kalinya ia berpikir, mungkin ingatan rumah ini bisa membantu.

 

-oOo-

 

Pagi di kantor selalu punya suara sendiri. Denting kartu akses, lift yang membuka dan menutup, langkah sepatu di lantai mengilap, dan obrolan setengah sadar yang masih membawa sisa kantuk. Rinai berjalan di antaranya, tas kerjanya menggantung rapi di bahu, langkahnya stabil meski pikirannya belum sepenuhnya tiba.

Begitu tiba di lantai divisi, Jevian muncul di sisinya seperti bayangan setia. Tangannya di saku, matanya menelusuri sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

“Aku keliling dulu ya,” katanya ringan.

Biasanya Rinai akan bertanya ke mana, atau mengingatkan agar jangan terlalu jauh. Tapi pagi ini ia hanya mengangguk. “Jangan lama-lama.”

 

Jevian tersenyum tipis, lalu pergi, tubuhnya memudar di antara lalu-lalang orang hidup.

Rinai duduk, menyalakan komputer. Email dan jadwal menyala di layar, tapi matanya berhenti di dua baris pertama. Hening terbentuk di kepalanya.

Mumpung Jevian nggak di sini, pikirnya.

Ia membuka tab baru. Mesin pencari terbuka. Kursor berkedip. Setelah ragu sesaat, ia mengetik alamat rumah itu lengkap. Enter.

Hanya peta, iklan properti lama, dan satu dua forum tak relevan.

Ia mengganti kata kunci. “Pembunuhan”, “Kematian satu keluarga”, “Kasus kriminal”. Ditambah nama jalan.

Tetap kosong.

Rinai menyandarkan punggung. Alisnya berkerut. Tidak masuk akal. Satu keluarga meninggal, rumah berpindah tangan, lalu tak ada jejak apa pun?

Nama pemilik lama pun tak menghasilkan apa-apa. Tak ada berita maupun arsip lama. Seolah peristiwa itu tak pernah tercatat.

Ia menatap layar terlalu lama. Rasa ganjil merayap, seperti menemukan lubang di tempat yang seharusnya padat informasi.

“Kalau bukan di berita…” gumamnya.

Lihat selengkapnya