Bau beras, gula, dan minyak goreng memenuhi udara. Karung-karung putih disusun tinggi di sepanjang dinding, sementara dus mi instan dan jerigen minyak berjajar rapi di rak kayu. Toko itu hidup. Suara kardus diseret, kalkulator ditekan cepat, dan obrolan pembeli bercampur menjadi dengung konstan.
Mami duduk di balik meja kasir sederhana. Kalkulator besar berwarna putih terletak di depannya, tombol-tombolnya menguning. Tangannya cekatan menekan angka, lalu mencoret kertas bon dengan pulpen biru.
“Totalnya seratus tiga puluh ribu ya,” katanya lembut pada pembeli.
Di dekat pintu gudang, Papa mengecek isi kardus yang berisi pesanan pembeli. Ia mengangguk pada anak buahnya, memberi instruksi singkat, lalu menutup dus kembali.
Aroma parfum maskulin mendekat, Jevian masuk dengan ransel di satu bahu. Kemeja flanelnya sudah dilonggarkan, wajahnya lelah, tapi matanya langsung menyapu ruangan. Ia mendekati meja kasir.
“Mi,” katanya. “Pulang aja. Aku gantiin.”
Mami menoleh, alisnya berkerut. “Kamu kan baru pulang kuliah. Nggak capek?”
“Nggak,” jawab Jevian cepat. Ia melirik perut Mami yang sedikit membulat. “Mami yang capek. Papi juga, sana temenin.”
Papa tertawa kecil. “Anak kita ini udah bisa diandelin, Mi.”
Mami tersenyum ragu, masih memegang kalkulator, seolah berat melepaskannya. Belum sempat ia menjawab, sebuah suara menyela.
“Mi, aku minta uang dong.”
Mima menghampiri dari luar, berseragam putih abu-abu, tangannya sudah menengadah. “Mau jalan sama teman-teman.”
Jevian menoleh tajam. “Jalan-jalan mulu. Bukannya bantuin di toko!”
“Cuma makan bareng doang kok, Ko,” Mima cepat-cepat membela diri. “Boleh kan, Mi?”
“Di sini makanan banyak,” balas Jevian. “Ajak aja teman kamu ke sini.”
“Yah, masa makanannya, ciki, biskuit, sama teh kemasan?” Mima mendengus.
Papa terkekeh. “Udah, Jev. Kasih aja. Kayak kamu nggak pernah muda aja.”
“Aku juga masih muda, Pa. Tapi nggak segitunya amat,” Jevian mendecak, membuka laci. “Nih, yang irit. Cari duit susah. Cepet pulang, jangan kecentilan.”
Mima tersenyum puas. “Makasih, Ko, Mi, Pa!” Ia pergi dengan langkah ringan.
Papa meraih lengan Mami. “Ayo pulang. Papa anter.”
Mami berjalan pelan, satu tangannya refleks menahan perut. Jevian memerhatikan mereka sampai pintu toko tertutup, lalu berdiri di balik meja kasir, mengambil kalkulator, dan melanjutkan hitung bon lain tanpa komentar.
-oOo-
Gudang belakang lebih sunyi. Sebuah dus terbuka di lantai, Beberapa slop rokok sudah dipindahkan ke tas kain. Narto berdiri di tengah ruangan, bahunya tegang, matanya menyala tidak terima.
“Kamu pikir nggak bakal ketahuan?” suara Jevian rendah, menekan.
“Maaf, Ko. Saya kan baru kali ini,” Narto membalas.
“Ya baru kali ini aja ketahuan. Sebelum-sebelumnya siapa yang tahu?” respon Jevian ketus.
Papa melangkah maju. Suaranya tenang, tapi dingin. “Ini udah fatal, To. Di sini, kepercayaan itu paling penting. Kamu udah kecewain saya.”
“Saya udah lama kerja di sini, Pak,” Narto menyeringai. “Masa segini aja Bapak nggak ikhlasin.”
“Ya kalau kamu minta baik-baik, mungkin bakal saya ikhlasin,” Papa Teo menjelaskan. “Masalahnya kamu nyolong. Kalau ambil sembako saya masih bisa maklum, mungkin buat kamu makan. Ini kamu nyolong rokok berslop-slop.”
Hening jatuh, berat.
Papa menunjuk pintu. “Kamu berhenti hari ini. Ambil barang kamu.”
Jevian mengepalkan tangan. “Orang kayak gitu nggak bisa dipelihara, Pa.”
Papa mengangguk. “Sekali nggak jujur, usaha runtuh.”
-oOo-