Rumah Bertuah

Serenarara
Chapter #15

Resonansi

Gerbong MRT meluncur stabil, lampu putihnya memantul di kaca jendela. Biasanya Mima akan mengomentari apa pun. Iklan, sepatu orang, atau ekspresi penumpang di seberang. Kali ini tidak. Ia duduk diam, tangan terlipat di pangkuan, pandangannya kosong.

Rinai meliriknya seklis, lalu mendekat sedikit. “Kamu kenapa kalem gini?” bisiknya. “Nggak kayak biasanya.”

Mima tersenyum tipis, “Lagi capek aja.”

Rinai mengernyit. Ia menahan senyum. Emang hantu bisa capek? hatinya bertanya-tanya.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang canggung. Lalu Mima menoleh, suaranya lebih pelan dari deru rel.

“Tadi siang…” ia ragu sepersekian detik. “Kamu turun dari mobil siapa?”

Rinai tersentak kecil, tapi segera menutupinya. “Oh, Vin.”

Alis Mima terangkat samar. Ia menelan ludah. “Itu cowok yang… lagi dekat sama kamu?”

Rinai menghela napas, menatap lurus ke depan. “Nggak terlalu dekat juga. Nama lengkapnya aja aku nggak tahu.”

Mima diam, tapi sesuatu di matanya mengeras. Seperti kepingan puzzle yang hampir pas.

“Kalau gitu… lain kali kamu tanya nama lengkapnya ya,” katanya, pelan tapi tegas.

Rinai menoleh, mengangguk meski heran.

Pengumuman stasiun berikutnya menggema. Rinai mengangguk, meski perasaannya tak ikut tenang. Ada sesuatu yang berubah pada Mima malam itu. Dan entah kenapa, perubahan itu terasa lebih mengganggu daripada semua bayangan yang pernah ia lihat.

 

-oOo-

 

Malam itu kamar Rinai temaram oleh cahaya layar laptop. Ia duduk di depan meja belajar, email kerjaan terbuka, headset menutup telinganya. Sebuah lagu mengalun pelan, cukup untuk membuat bahunya bergoyang kecil. Bibirnya ikut bernyanyi tanpa sadar, nyaris berbisik.

Sebuah kepala menyembul di sela pintu kamar. “Kamu nyanyi?”

“Bukan , ngelawak,” seloroh gadis itu. “Ngapain lagi malam-malam ke sini?”

“Boleh masuk nggak?” tanya Jevian. “Udah izin loh ini.”

“Iya, masuk aja,” jawab Rinai, sudah terbiasa dengan kemunculannya.

Jevian melangkah masuk, pandangannya jatuh ke layar laptop. “Kamu setel lagu apa?”

“Kamu suka musik juga?” Rinai terkejut.

“Siapa yang nggak suka musik?” respon Jevian setelah melirik layar laptopnya. “Ah, aku nggak tahu lagunya.”

Rinai menatapnya datar. Iya lah, generation gap kita kan jauh, pikirnya.

“Aku juga bisa nyanyi,” katanya tiba-tiba, dan sebuah gitar muncul di tangannya.

“Lho, kamu bisa main gitar juga?” heran Rinai, terkejut.

“Bisa dong,” aku Jevian sambil memainkan alisnya. Ia duduk di kasur, bersandar pada kepala kasur, lalu memetik senar dengan santai. “Ini kamu tahu nggak lagunya?”

Intro itu mengalun. Rinai tertegun, itu melodi yang ia kenal. “I don’t wanna miss a thing” dari Aerosmith.

Udara di kamar berubah. Dinding berkilat, warna bergeser, dan kamarnya perlahan menjelma ruang lain. Lebih maskulin, penuh poster, bernapas dengan waktu yang berbeda. Jevian tetap di tempat yang sama, gitar di pangkuannya, tapi pakaiannya lain. Wajahnya sama, senyumnya sama. Suaranya lantang, hidup. Ada binar kehidupan di matanya.

I don’t wanna close my eyes… I don’t wanna fall asleep cause I’d miss you baby, and I don’t wanna miss a thing.

Rinai menelan takjub. Ini masa ketika pemuda itu masih bernapas, bernyanyi di kamarnya sendiri. Manis sekaligus kejam, karena Rinai tahu bagaimana kisah itu berakhir.

Air mata jatuh tanpa suara.

Pemandangan kembali ke masa kini. Petikan gitar terhenti. Jevian menatapnya, kaget.

“Kamu kenapa nangis?” tanyanya dengan suara lembut. “It’s okay. Semua baik-baik aja kok.”

Tangannya merengkuh Rinai, memeluknya, mengelus punggungnya perlahan. Menenangkan isak yang akhirnya pecah.

Lihat selengkapnya