Rumah Bertuah

Serenarara
Chapter #16

Garis yang Hampir Bertemu

Pagi itu Mami ikut sampai ke kantor Rinai. Seperti biasa, ia berjalan di sisi gadis itu dengan langkah pelan, seolah tak ingin mengganggu ritme dunia yang bukan lagi miliknya. Gedung tinggi itu menyambut dengan pintu kaca otomatis, denting kartu akses, dan udara dingin yang bersih. Rinai sempat menoleh, memastikan Mami tidak tertinggal.

“Nanti Mami keliling aja ya,” kata Rinai sambil menggantung tas di bahu. “Aku mau fokus kerja dulu.”

Perempuan paruh baya itu mengangguk. Senyumnya tipis, tapi matanya hangat. Ia sudah sering melakukan ini. Meninggalkan Rinai, berjalan sendiri, mengamati dunia yang terus bergerak tanpa menyadari keberadaannya.

Langkahnya membawanya menyusuri lorong demi lorong. Ia mengamati wajah-wajah asing, pakaian rapi, tawa kecil di pantry, percakapan yang terpotong notifikasi. Hingga kemudian langkahnya melambat.

Di ujung lorong itu, seorang perempuan berjalan anggun. Rambutnya disanggul rapi, blusnya sederhana tapi elegan, langkahnya mantap. Dada Mami mendadak sesak.

Perempuan itu berhenti di depan mesin kopi, berbincang singkat dengan staf lain. Suaranya tidak terlalu jelas, tapi Mami tidak butuh suara untuk mengenalinya.

Weni. Pembantu yang dititipkan satu tugas paling penting dalam hidupnya.

“Weni…” panggil Mami lirih, refleks.

Tentu saja perempuan itu tidak menoleh.

Mami mempercepat langkah, mendekat, dadanya bergetar hebat. Dari jarak sedekat ini, ia melihat gurat halus di wajah Weni, tanda hidup yang terus berlanjut.

“Weni,” ucapnya lagi, kali ini suaranya parau. “Anak saya di mana, Wen?”

Tidak ada jawaban.

Weni melangkah pergi, dan Mami mengikutinya. Tangannya terulur, seolah bisa menarik lengan itu, seolah dapat memaksa dunia berhenti sejenak untuk mendengarnya.

“Tolong,” bisiknya. “Bilang sama saya… anak saya di mana?”

Mami mengikuti langkah Weni tanpa benar-benar tahu tujuannya. Lorong terasa panjang.

Perempuan itu berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkah.

Mami tidak peduli pada situasi sekitarnya. Rasanya seperti sesuatu mendesak keluar dari dadanya namun tertahan bertahun-tahun.

“Berarti benar…” gumamnya, bukan pada siapa pun.

Lututnya melemas. Tangannya meraba dinding terdekat. Pandangannya buram.

Bukan kehilangan yang ia rasakan, melainkan sesuatu yang terlalu dekat untuk disentuh, meski tubuhnya tak mampu.

 

Ketika akhirnya Mami kembali ke meja Rinai, wajahnya pucat.

“Mami mau pulang dulu,” katanya pelan. “Agak capek.”

Rinai menoleh, terkejut. “Mami kenapa?”

“Cuma capek,” ulangnya. Senyum kecil dipaksakan. “Nanti Mami tunggu di rumah.”

Rinai mengangguk, merasa bersalah. Ia tidak tahu bahwa yang membuat Mami pulang lebih awal bukan tubuhnya, melainkan hati yang hancur perlahan.

 

-oOo-

 

Pintu rumah terbuka lebih pelan dari biasanya. Tidak ada suara Mami memanggil dari depan. Tidak ada langkah ringan yang langsung menuju dapur. Yang terdengar hanya bunyi pintu tertutup, lalu jeda yang terlalu lama.

Papa yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. “Mi?”

Mami berdiri di dekat rak sepatu. Wajahnya pucat, matanya sembab, seperti habis menahan sesuatu terlalu lama.

“Mami?” Papi bangkit dengan cepat. “Kenapa?”

Jevian yang tadinya duduk selonjor di lantai ikut berdiri. Mima menghentikan kegiatannya membaca novel.

Mami menggeleng kecil. “Nggak apa-apa,” katanya, tapi suaranya tidak meyakinkan siapa pun.

Papa sudah lebih dulu memegang lengannya. “Duduk dulu. Sini.”

Tanpa membantah, Mami menuruti. Ia duduk di sofa, punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Papa duduk di sebelahnya. Jevian berdiri di depan sofa, Mima mendekat, ragu-ragu, lalu ikut duduk di ujung.

“Kamu kenapa, Mi?” tanya Papa lagi, lebih pelan.

Mami menarik napas panjang, refleks lama. Seperti sedang menguatkan diri untuk bicara.

“Tadi… di kantor Rinai,” katanya akhirnya.

Jevian langsung waspada. “Kenapa di kantor Rinai?”

Mami menelan ludah. “Mami lihat Weni.”

Ruangan mendadak hening.

Papa mengerutkan kening. “Weni... pembantu lama kita?”

“Iya,” jawab Mami cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Mami yakin itu dia. Cara jalannya, suaranya, mukanya… nggak mungkin salah.”

Suaranya tertahan. “Berarti bener… adik kamu kerja di sana.”

Papa menyandarkan punggung ke sofa. “Jadi selama ini… kita nggak salah cari.”

Mami mengusap sudut matanya. “Dia kelihatan sehat, Pa, rapi. Kelihatannya hidupnya berjalan baik.”

Lihat selengkapnya