Pagi itu Papa yang ikut mengantar Rinai di kantor. Tanpa banyak bicara, hantu pria itu hanya berjalan di sisinya dengan langkah tenang, mengamati sekitar seperti memastikan semua masih ada di tempatnya.
“Papa mau gimana? Ikut aku atau keliling aja?” Rinai menawarkan sambil merapikan ID card di leher.
Papa berpikir sejenak. “Papa keliling sebentar.”
Menjelang jam istirahat, Rinai berdiri dari mejanya dan berjalan menuju lift. Lorong mulai ramai oleh pegawai yang turun hampir bersamaan.
Saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menahannya.
“Eh.”
Rinai menoleh. Vin berdiri di sana, satu tangan masih menahan pintu, satu lagi di saku celana. Kemejanya rapi, ekspresinya santai. Terlalu santai untuk ukuran kebetulan, tapi cukup wajar untuk tidak terlihat menunggu.
“Mau makan?” tanyanya.
“Iya,” jawab Rinai singkat.
Lift meluncur turun. Hening canggung menyelip di antara dengung mesin.
“Lagi mau makan apa?” Vin akhirnya membuka suara.
“Nggak tahu.”
“Ketoprak di depan gang enak. Mau coba?”
Rinai ragu sepersekian detik, lalu mengangguk. “Boleh.”
Papa sudah menunggu di lobi, berdiri agak menjauh. Ia terhenyak ketika mendapati Rinai berjalan bersama seorang pria, terlebih ketika menyadari pria itu adalah putra bungsunya.
Loh, mereka saling kenal dekat? pikirnya bingung. Langkahnya tertahan sepersekian detik. Mereka satu kantor, masuk akal jika saling mengenal.
Papa mengikuti dari belakang, tidak ikut duduk. Ia berhenti di dekat gerobak penjual minuman, berdiri dengan tangan terlipat.
Rinai dan Vin duduk di bangku plastik. Ketoprak datang cepat, aroma bawang dan kacang hangat menyebar.
“Kamu suka ketoprak juga? Cobain deh, enak nggak menurut kamu?” tanya Vin sambil menuang kecap.
“Iya suka,” jawab Rinai.
Beberapa suap berlalu dalam diam.
“Vin,” kata Rinai pelan.
“Hm?” Vin mendongak, Papa ikut menoleh.
“Boleh nggak… aku ketemu orang tua kamu lagi?”
Sendok Vin berhenti. “Hah?”
Papa menegang.
“Maksud aku,” Rinai cepat mengoreksi. “Orang tuamu kayaknya seru. Aku nyaman ngobrol sama Ibumu kemarin.”
Vin terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil, bingung tapi jelas senang. “Ya, boleh aja sih.”
Papa masih diam. Tatapannya tajam, tapi tidak memotong.
“Kalau gitu,” kata Vin spontan, “pulang kerja aja kita ke rumahku. Ibu pasti senang.”
Rinai mengangguk. “Oke.”
Vin tampak puas. Papa semakin kaku.
Saat Vin berdiri membayar, Rinai menunduk menatap piringnya yang hampir kosong. Kalimat Jevian semalam menyusup begitu saja.
“Jangan cuma karena ditraktir makan, kamu mau-mauan lah. Gampang banget luluh.”
Dadanya mengencang. Apa aku terlalu gampangan ya? Makan bareng, ikut ke rumah, pikir gadis itu.
Ia menghela napas pelan, lalu berdiri. “Aku bayar sendiri aja Vin.”
“Eh, nggak usah. Aku aja yang bayarin,” Vin menolak, menepis uang dari tangan Rinai, pelan.
“Nggak apa-apa,” Rinai memasukkan uang itu ke saku kemeja Vin. “Aku nggak nyaman kalau dibayarin.”
Vin mendengus pasrah karena Rinai sudah berlalu meninggalkannya.
Bagi Vin, ini kemajuan. Bagi Papa, ini alarm. Sementara bagi Rinai, ini peluang yang tak ingin ia sia-siakan.
-oOo-