Malam itu rumah Rinai kembali sunyi setelah suara mesin mobil Vin menghilang di ujung jalan. Rinai langsung masuk ke kamar mandi, menutup pintu, dan membiarkan air hangat mengalir di tubuhnya. Kepalanya masih penuh, tapi ia sengaja tidak memikirkannya dulu.
Di ruang tengah, keluarga hantu berkumpul.
Papa berdiri di dekat meja makan, wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan dari sore tadi. Mami duduk diam, tangan terlipat di pangkuan. Mima menyender di dinding. Jevian berdiri agak menjauh, menyandarkan bahu ke kusen pintu.
“Tadi kami ke rumah Vin,” ucap Papa akhirnya, pelan tapi tegas. “Di sana Papa bertemu Narto, ayah dari Vin, sekaligus pegawai kita yang dulu nggak jujur.”
Mami menghela napas panjang. “Jadi… dia suami Weni sekarang?”
“Tapi dia udah berubah,” Papa menambahkan. “Lebih tua, lebih bijak, dan… kelihatan menyesal.”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Vin, teman Rinai yang selama ini di sekitarnya, ternyata Vinardo.”
“Jadi Weni dan Narto mengasuh dia seperti anak sendiri, ya? Bagaimana kehidupan mereka, Pa?” Mami penasaran.
“Berkecukupan. Vin dicintai seperti anak sendiri, dibesarkan dengan baik,” Papa menahan haru.
Sunyi jatuh di antara mereka.
Jevian menunduk. Semua rasa kesalnya selama ini, curiga, cemburu, dongkol, seketika terasa ganjil arahnya. Mima juga sama. Ia sudah mengetahui tentang Vin, tapi baru sekarang gambarnya utuh.
“Jadi…” gumam Mami lirih. “Cowok rese yang selama ini mendekati Rinai dan mengecewakan dia itu… anak kita?”
Papa mengangguk pelan. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya lega.
“Papa cuma mau bilang satu hal,” lanjutnya. “Orang bisa berubah. Seperti Narto, dia mungkin dulu salah besar, tapi dari caranya bicara… Papa percaya penyesalannya nyata.”
Tak ada yang menanggapi. Mereka semua sedang mencerna kenyataan itu dengan caranya masing-masing.
Dari arah lantai dua, terdengar suara pintu dibuka. Rinai keluar kamar mandi, rambutnya masih basah, mengenakan piyama sederhana. Ia berjalan ke kamar, menutup pintu, lalu mengeringkan rambut seadanya. Baru setelah itu, ketukan pelan terdengar di pintu.
Tok. Tok.
“Jevian ya? Masuk aja,” suara Rinai dari dalam.
Jevian masuk setelah diberi izin. Ia berhenti di ambang pintu, seperti biasa. Tatapannya sempat turun ke rambut Rinai yang masih meneteskan air, lalu cepat-cepat kembali ke wajahnya.
“Aku mau minta maaf,” katanya langsung.
Rinai mengernyit. “Kenapa tiba-tiba?”
“Soal kemarin,” Jevian menarik napas. “Omongan aku keterlaluan.”
Rinai terdiam sejenak, lalu duduk di tepi ranjang. “Aku tersinggung sih. Tapi… ya udah.”
Jevian mengangguk. “Aku nggak akan permasalahkan cowok itu lagi. Sekarang terserah kamu mau tanggapi dia gimana. Aku sadar aku cuma cemburu sama… Vin.”
Rinai mendongak. “Hah?” tak ada yang tahu, degup jantungnya melonjak di dalam.
“Intinya aku nggak punya hak buat ikut campur hubungan kalian berdua, justru…” ucap Jevian. “Kalau kamu sama dia, aku dukung.”
Rinai menatapnya lama, seperti sedang menimbah sesuatu. Lalu, dengan nada yang sama polosnya, ia berkata, “Tadi waktu perjalanan pulang di mobil Vin ngaku, dia tertarik sama aku.”
Jevian membeku.
“Dia nanya, apa aku tertarik juga atau nggak,” lanjut Rinia. “Tapi… aku bingung.”
“Kenapa?” tanya Jevian, suaranya lebih pelan.
Rinai menunduk. “Karena yang ada di pikiranku… malah kamu.”
Hening.
Rinai mengangkat wajahnya lagi, menatap Jevian lurus. “Jev… gimana kalau… yang aku sukai itu kamu?”
Jevian menelan ludah. Awalnya ia bertekad mengikhlaskan Rinai untuk Vin, adiknya. Namun pengakuan itu meruntuhkan tekadnya seketika.
“Aku…” ia tersenyum kecil, nyaris tidak percaya. “Aku senang dengarnya.”