Pagi itu Rinai terbangun dengan perasaan aneh di perutnya. Bukan sakit menusuk, lebih seperti tekanan yang membuat tubuhnya malas bergerak. Ia berguling pelan, menarik selimut sampai ke dada, lalu menghela napas panjang.
Ia bangkit, mengecek kondisinya, dan desahan kecil lolos begitu saja. Hari pertama haidnya. Pantas saja sejak bangun rasanya tidak keruan. Ia segera menyambar pembalut dan pergi ke kamar mandi.
Biasanya Rinai akan turun ke dapur, menyeduh teh sendiri, mencari sarapan, dan berpura-pura baik-baik saja. Tapi pagi ini ia kembali merebahkan diri, menatap langit-langit kamar, merasa terlalu letih untuk bersikap tangguh.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok. Tok.
“Nai?” suara Jevian terdengar hati-hati. “Boleh masuk?”
Rinai heran sepersekian detik. “Masuk.”
Pintu terbuka pelan. Jevian muncul dengan ekspresi canggung, membawa nampan yang isinya semangkuk bubur ayam mengepul hangat, segelas air putih, dan botol kompres berisi air hangat. Rinai mengernyit.
“Kata Mami kamu lagi nggak enak badan,” ujarnya, lalu meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang. “Ini… buat perut.”
Rinai menatap botol kompres itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kamu niat banget.”
Jevian mengangkat bahu. “Kata Mami ini membantu.”
Ia duduk di ujung ranjang, menjaga jarak, seolah takut melanggar batas yang tidak tertulis. “Gimana rasanya? Sakit banget, ya?”
“Nggak sampai sakit banget,” Rinai menjawab jujur. “Lebih ke risih. Jadi males ngapa-ngapain.”
“Ya udah,” kata Jevian cepat. “Kamu di kamar aja hari ini. Biar aku temenin.”
Rinai menyipitkan mata. “Kamu mau ngapain?”
Jevian tidak menjawab. Ia malah berdiri, melangkah ke sudut kamar, lalu entah dari mana, sebuah gitar muncul di tangannya. Seperti sebelumnya, hadir begitu saja.
“Orang mau nyanyi pakai gitar, yee!” katanya sambil menjulurkan lidah.
Rinai tertawa kecil, kaget sekaligus geli. “Shombong amat!”
“Eh, tapi aku nemu satu lagu bagus loh di playlist kamu,” Jevian menambahkan. “Aku suka banget, jadi aku pelajarin lagunya. Mau dengar nggak?”
Rinai mengambil sendok, mengaduk bubur hangat itu, lalu mengangguk. “Boleh deh, sambil makan ya.”
Jevian tersenyum puas. Jarinya mulai memetik senar, pelan dan teratur. Saat suara pertamanya keluar, lembut dan dalam, Rinai terpaku.
“Indah… terasa indah… bila kita terbuai dalam alunan cinta…”
Pagi itu kamar Rinai dipenuhi suara gitar dan vokal Jevian yang hangat. Rinai menyuapkan bubur sedikit demi sedikit, membiarkan lagu itu mengalir bersamaan dengan ketentraman yang ia rasakan. Untuk sesaat, dunia menjadi sederhana. Tidak ada batas, tidak ada akhir. Hanya pagi, musik, dan perhatian kecil yang terasa begitu berarti.
-oOo-
Siang menjelang tanpa benar-benar terasa lewat. Cahaya matahari menyusup masuk lewat jendela kamar Rinai, jatuh miring di meja belajar tuanya. Meja itu sudah dicat ulang warna putih, tapi sudut-sudutnya masih menyimpan bekas goresan lama. Jejak tangan orang lain di waktu yang bukan miliknya.
Rinai duduk di kursi, laptop terbuka di hadapannya. Awalnya ia berniat membalas email kantor, tapi rasa berat di kepala membuatnya menyerah. Ia menyandarkan dagu di kedua tangan, lalu menurunkan kepala ke atas meja.
Headset menutup telinganya. Lagu diputar pelan, cukup untuk membuat pikiran mengambang. Matanya terpejam.
Lalu sesuatu berubah.
Udara di sekitarnya terasa lebih padat. Bau kayu tua dan debu samar menyeruak. Rinai membuka mata, dan dadanya langsung mengencang.
Kamar itu bukan kamarnya.
Dindingnya putih kusam. Tirai jendela bermotif bunga kecil. Meja di depannya belum dicat ulang, warnanya cokelat tua. Di balik meja itu duduk Jevian. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya segar, matanya bercahaya.
Di kasur, seorang pemuda lain rebahan sambil membaca komik.