Hari masih pagi, namun mentari mulai naik. Saat itu Rinai terduduk di lantai ruang tengah, punggungnya bersandar pada kaki sofa. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal di pangkuan. Kata-kata Papa masih menggema di kepalanya, terlalu berat untuk langsung diterima.
“Anak bungsu kami… tidak ikut pergi bersama kami,” suara itu kembali teringat jelas. “Dia hilang.”
Satu kata itu membuat dada Rinai mengencang. Hilang, bukan meninggal, bukan ditemukan. Hilang, dan dibiarkan jadi tanda tanya puluhan tahun lamanya.
Rinai menelan ludah. “Namanya… siapa?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Vinardo,” jawab Mami lembut. “Yang kamu kenal dengan Vin.”
Dunia Rinai seolah berhenti. Nama itu menghantamnya tanpa ampun. Vin. Terbayang wajah Vin yang ia kenal. Sikap kikuknya, caranya diam, caranya selalu muncul di waktu yang tak terduga. Semua potongan itu tiba-tiba menyatu dengan kejam.
“Vin…” Rinai berbisik, lalu napasnya patah. “Vin yang aku kenal…”
Kepalanya menunduk lebih dalam. Air mata jatuh, tak tertahan. Bukan karena sedih semata, tapi karena perasaan sesak yang tak bisa ia beri nama. Kebetulan yang terlalu besar untuk disebut kebetulan.
Jevian sudah berlutut di hadapannya. Tanpa ragu, ia menarik Rinai ke dalam pelukan, menepuk punggungnya perlahan, menenangkan ritme napas yang kacau.
“Ini kebetulan yang mengagumkan, kan?” kata Jevian lirih, hangat, seolah menahan getar di dadanya sendiri.
Rinai mengangguk di bahunya, menangis sesak. Ia tak menyangka, dari semua orang di dunia ini, anak terakhir yang hilang itu adalah Vin yang selama ini berdiri begitu dekat dengannya.
“Terima kasih, Rinai. Berkat kamu, kami menemukan putra kami lagi.” Papa tersenyum tulus.
-oOo-
Sore itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah sedang menahan napas. Cahaya matahari jatuh menyerong dari balik jendela ruang tengah, membelah lantai jadi dua warna: kuning hangat dan bayangan panjang yang dingin. Rinai berdiri di dekat meja, memegang gelas berisi air yang sudah lama tak disentuh. Airnya beriak pelan saat tangannya sedikit bergetar.
Ketukan pintu terdengar. Tidak keras maupun ragu. Justru itu yang membuat dada Rinai mengencang.
Ia berjalan ke pintu, menarik napas dalam sebelum membukanya. Vin berdiri di sana, masih mengenakan setelan kerjanya. Tangannya masuk ke saku, bahunya agak kaku. Senyumnya muncul tipis, canggung, seperti tidak yakin apakah ia seharusnya datang.
“Kamu sakit? Kok sampai nggak masuk kerja?” tanyanya, suaranya lembut.
“Masuk dulu,” jawab Rinai singkat. Ia melangkah ke samping, memberi jalan.
Vin sempat terdiam sepersekian detik, lalu melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruang tengah. Ada rasa asing yang menyelinap, seperti dejavu tanpa bentuk.
Rinai menutup pintu perlahan.
“Duduk,” katanya sambil menunjuk sofa. “Aku bikinin minum dulu.”
Vin mengangguk, duduk dengan punggung tegak, telapak tangannya bertumpu di lutut. Dari caranya menahan napas, Rinai tahu: Vin juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang akan berubah sore ini.