RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #1

Rumah Besar

Aku tidak malu mengakui bahwa aku punya beberapa orang yang aku benci.

Bahkan jika perlu, aku bisa mengatakan sekarang juga tiga orang yang berada di daftar teratas; teman sekelasku di SD, yang karena malu mengakui bahwa dia jatuh sendiri dari kursinya, mengadu bahwa aku mendorongnya dari belakang; ketua kelasku di SMA yang tiga kali menghilangkan tugasku dengan berbagai alasan; dan orang yang menempati peringkat tertinggi...

Orang yang mengetahui keadaan rumahku pasti mengira bahwa aku paling membenci nenekku. Sayangnya, membenci lansia yang bahkan tidak bisa makan jika seseorang tidak menyodorkan nasi ke bawah hidungnya adalah hal yang sia-sia.

Daripada membenci orang seperti itu, aku lebih membenci ibuku.

Aku membencinya dalam kadar yang cukup untuk membuatku keluar dari rumah di usia dua puluh delapan tahun tanpa memiliki pekerjaan tetap.

"Lho, Mbak Adriani?"

Seorang pria baruh baya menyambutku ketika langkahku membelah halaman depan. Dia mendekat dengan kaki yang sudah tidak terlalu tegak, lantas mengambil alih tas duffel dari tanganku.

"Kenapa Mbak Adriani tiba sekarang? Bukannya harusnya masih lima hari lagi?"

"Yah, ada satu-dua keperluan." Aku menjawab samar. "Bagaimana pekerjaannya, Pak De?"

Pak Man, pria paruh baya yang menyambutku ini adalah orang kepercayaan keluargaku. Konon dia sudah bekerja untuk nenekku sejak usianya masih belasan. Sudah sepantasnya aku menyerahkan urusan restorasi rumah keluargaku di desa kepadanya.

Di hadapan kami berdiri rumah limasan berdinding gebyok. Walau 65% bagiannya terbuat dari kayu, rumah ini masih berdiri dengan kokoh. Ukirannya masih terlihat jelas tanpa tambahan jejak rayap. Pak Man menuntunku mendekat hingga aku bisa menyentuh langkan kayu yang licin oleh pelapis.

Lihat selengkapnya