RUMAH BESAR

SofieSofiya
Chapter #2

Hidup Baru

Keesokan harinya, Pak Man tidak membawakanku kompor seperti yang aku minta. Alih-alih, dia membawakanku tremos, dua air mineral satu setengah liter, dan rantang makanan dengan menu yang sama dengan milik para tukang.

Kami sarapan dengan tenang sambil bersila di teras. Aku sudah mencoba memaksa mereka untuk makan di dalam. Walau sama-sama duduk di atas lantai, sudah sepatutnya sebagai tuan rumah aku mempersilahkan mereka makan di tempat yang lebih nyaman. Namun tawaran itu segera ditolak. Katanya, toh tubuh mereka sudah kotor dan bau keringat. Sekalian saja makan di tempat mereka kerja. Lagi pula, angin di teras lebih keras, sekalian mengisi perut, sekalian memgengeringkan keringat.

Mendengar alasan terakhir, justru aku yang tergiur dan meminta ijin untuk ikut sarapan bersama.

Seolah sudah tahu, tidak satu pun dari mereka yang menekanku untuk mengeluarkan alasanku pindah ke desa. Tidak seperti tukang-tukang yang biasa bekerja di proyek ayah, mereka tidak terlalu mau tahu atau genit dengan melontarkan rayuan murah. Mungkin karena hampir semua berusia paruh baya atau karena istri-istri mereka hanya berjarak beberapa langkah.

Kesimpulannya, mereka sopan dan ramah. Makan di sekitar mereka, walau ini kali pertama kami saling jumpa, tidak terasa canggung. Paling tidak aku masih bisa mengecap rasa asin dari masakan istri Pak Man dan menelannya dengan mudah.

Sebagian besar percakapan kami berpusat pada nenek dan ibu. Dua orang yang sudah mereka kenal.

"Mbok Darsih masih cerewet, Mbak?"

Pada suatu titik, setelah aku tidak berusaha menutupi ketidak cocokanku dengan keluarga di kota, mereka mulai menanyakan hal-hal yang provokatif.

"Oh, masih. Malah semakin parah setelah stroke."

"Mbok Darsih kena stroke? Yah, tidak kaget, sih."

Tukang lain menepuk lengan orang yang berbicara. Walau begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menutupi seringaian.

Sepertinya, mulut berbisa nenek terkenal sejak dari kampung halamannya.

Lihat selengkapnya