"Ini anak saya, Ayu."
Anak Pak Man menjabat tanganku tepat setelah ayahnya menyebut namanya.
Dia mempunyai wajah yang tidak menghianati namanya. Rambutnya yang sepanjang punggung diikat menjadi satu. Poninya terjepit di bawah bandana elastis yang biasa digunakan oleh atlet. Merasa malu, Aku mengakui bahwa aku memiliki prasangka bahwa anak perempuan yang tumbuh di desa pasti memiliki tubuh kecil, tapi Ayu memiliki tinggi yang hampir sama denganku, malah mungkin lebih tinggi dua-tiga centi.
Aku meliriknya dan Pak Man secara bergantian. Melihat rupa Pak Man, aku menimbang sebetapa bening paras ibunya. Mitos bahwa wanita cantik lebih memandang kepribadian mungkin ada benarnya.
Ah. Lagi-lagi aku berprasangka terhadap orang lain.
Kalau diingat, teman-teman kuliahku juga banyak yang berasal dari desa, tapi karena mereka sudah terbawa gaya tampil perkotaan, aku jadi lupa pada fakta itu.
"Ayu sudah selesai ujian kenaikan kelas, jadi mulai hari ini dia yang akan mengirim makanan. Kalau hari ini Mbak Adriani tidak repot, dia bisa antar Mbak beli keperluan rumah."
Aku menerima tawaran Pak Man dengan senang hati. Memang bisa sesibuk apa seorang freelancer?
Tanpa butuh waktu lama, aku sudah berada di boncengan Ayu. Kami melesat ke jalan besar dengan menunggangi motor matic keluaran tahun 2013.
Dari belakangnya, yang terlihat di mataku hanyalah jepit rambut bunga kamboja. Aksesoris yang cocok untuk wanita biasa yang hidup dengan mengikuti arus.
Aku punya tiga japit serupa dengan warna berbeda-beda. Sayangnya, aku lupa membawa ketiganya sehingga sekarang rambutku berterbangan terbawa angin. Mengikuti arus secara harfiah.
Tidak tahan dengan kebisuan antara kami, aku yang lebih dewasa memutuskan untuk memecah keheningan.
"Kamu sering naik motor sendiri, Yu?"
"Memang ada warga Indonesia yang gak sering naik motor?"
Ada. Aku. Aku tidak terlalu suka berpergian dengan menggunakan kendaraan sendiri sebab aku gampang merasa stress jika melihat orang berkendara tanpa memikirkan orang lain. Untungnya, jasa ojek online di negara ini tersedia dengan ongkos yang murah.
Sebagai pihak yang diuntungkan dari keringat mereka yang tidak sempat menetes karena segera kering oleh angin jalanan, aku hanya bisa berdoa agar semua ojek di negara ini dijauhkan dari masuk angin dan batuk pilek, mendapat lampu hijau tiap kali berkendara, mempunyai rezeki melimpah sebelum pajak kendaraan mereka sampai pada tanggal waktu pembayaran...
"Sudah sampai."