Aku memutuskan untuk mengupas kalimat terakhir dari bab sebelumnya, memasukkannya dalam karung goni, lalu membuangnya ke Samudra Hindia.
Sial.
Pemalu dan introvert apanya? Lebih ke tidak tahu malu dan tidak tahu diri.
Remaja dewasa putri adalah makhluk yang unik. Mereka cenderung memperumit hubungan di sekitar mereka tapi juga bertindak dengan sederhana. Sebab itulah, mereka menjadi pihak yang paling depan dalam menghakimi sekaligus yang paling sering terlibat masalah.
Sedikit saja orang dewasa di sekitar mereka bersikap terbuka, mereka akan menilainya sebagai lampu hijau untuk menginjak-injak wilayah di balik garis privasi.
"Hari ini kamu nggak sekolah lagi, Yu?"
Aku bertanya ketika dia tidak tampak akan segera pergi setelah aku membereskan wadah jatah sarapanku.
Ayu mengorek lubang hidungnya sehingga jawaban yang dia keluarkan terdengar sangau.
"Ngak."
Ugh.
"Ibumu nggak masalah kalau kamu nggak di rumah?"
Ayu menyentil entah apa yang dia temukan dari dalam hidungnya ke sembarang arah.
Iuh.
"Ibuku malah lebih lega kalau aku nggak di rumah. No prob."
Jadi, nggak masalah juga kalau ganti aku yang terganggu dengan kehadiran anaknya?
Pantas saja istri Pak Man menambah camilan ke jatah sarapanku. Selama ini aku menerimanya dengan senang hati, mengira bahwa kesan pertamaku padanya pastilah sangat bagus hingga dia langsung menyukaiku, tanpa tahu bahwa cemilan itu adalah sogokan agar aku mau mengemong anaknya.
Aku menatap Ayu dengan keki. Dia sudah tampak sangat nyaman berada di rumah ini sampai bersedia membawa tikar enceng gondok dan bantal dari rumah.
Semua itu terjadi hanya dalam waktu dua hari!
Dia menggelar alat pikniknya di samping mejaku dan rebahan di situ sambil main HP sepanjang hari.
"Ngomong-ngomong, sofa Mbak datang nanti sore. Dari mebel milik teman bapak. Mbak bisa dapat harga setengah juta lebih murah dari yang di toko. Menguntungkan, kan?"
Meski mendapat diskon lima ratus ribu, aku tidak bisa memaksakan diri untuk bersyukur. Firasatku mengatakan bahwa toh yang akan menikmati sofa itu seutuhnya adalah anak ini.
Aku menghela napas.
"Kamu nggak punya teman lain ya, Yu?"
Aku mencoba menyembunyikan keengganan terhadap kehadirannya dalam nada tanyaku. Mau bagaimanapun, dia adalah anak Pak Man yang sudah sangat membantuku sejak sebelum pindah ke rumah ini. Sebisa mungkin aku harus mempertahankan citra baikku di hadapan keluarganya.
Walau sepertinya tidak perlu, karena Ayu menjawab tanpa malu.
"Aku lebih senang di sini karena ada WiFi."
Terkutuklah WiFi!
Aku sengaja membuatnya menjadi akses publik agar para tukang dapat menerima panggilan dari rumah, tanpa tahu bahwa hal itu akan mengundang tikus jaringan gratis.